There are many things that may represent Korea. One among them is the Korean traditional dress “hanbok.”

Although nowadays few people wear hanbok except on national holidays like New Year’s Day, the beauty and elegance of the garment is always amazing.


Stitch by stitch, making a beautiful hanbok takes great craftsmanship, effort, and passion. It depends on how you choose the right combination of colors among infinite possibilities; how you cut, fold, stitch up patches of cloth together; how you sew patterns onto it, etc.

Hanbok has some magical quality about its color and texture that even the modern digital technology can’t really simulate on the screen.


Patterns of flowers and butterflies sewn into the cloth radiate the artist’s craftsmanship and subtlety. Wearing hanbok, you can just feel the artist’s heart oozing out of it. There are no fixed set of rules or formula to follow in making hanbok. How the garment is rendered is solely at the discretion of the hanbok-maker.


Hanbok takes into account the wearer’s body shape, comfort, and beauty, all at the same time. It is one of Korea’s greatest assets containing its people’s indelible, age-long wisdom.

Despite the garment’s much fallen popularity among people nowadays, the passion and perseverance of hanbok artists endures.

Hats off to the hanbok makers – protectors of one of the most precious Korean assets.

PERHATIAN:

Artikel ini bisa jadi memiliki kecenderungan menjelek-jelekkan suku bangsa lain. Jadi kalau ada dari kalian yang membaca artikel ini berasal dari salah satu suku bangsa itu, janganlah langsung menggalang massa atau pergi ke dukun untuk mengguna2iku. Aku tak bermaksud menghina. Cuma bercanda.Jika merasa tersinggung setelah membaca artikel ini, hal terbaik yang dapat anda lakukan adalah membanting layar monitor komputer atau laptop anda (pastikan itu milik anda sendiri).

Aksen atao logat itu bisa jadi masalah ternyata. Aku teringat pada bulan awal aku berinteraksi dengan kawan-kawanku di Korea. cukup sulit berkomunikasi dengan beberapa teman. Ya benar, mereka memang berbahasa Inggris, tapi bahasa inggris pun punya produk derivatif. Kami di sini berbahasa inggris dengan berbagai aksen. Inilah beberapa produk turunan dari bahasa Inggris itu.

Temanku dengan aksen british

Kalau ia ngomong, bak kaum bangsawan. Nadanya mendayu-dayu. Ekpresi wajahnya sangat tertata, begitu juga gerak gerik tangannya udah menjadi kesatuan dengan mimik mukanya.

Yang lucu kalau ia ngomong: “factor..” ia melafalkannya seperti orang indonesia ngomong “faktor” tapi bedanya entah kenapa temanku ini selalu berhenti sejenak di bagian “fak” sebelum dilanjut dengan “tor”. Ujung-ujungnya, kita menangkap ia lagi  ngomong “fu*k” tapi ditambahin “tor”.. Haha..

kalo mau nanya di kelas selalu ngomong: Excuse me, professsssaaaa….

(nada dan aksen ngomongnya mirip kayak: My name is harry potttaaaaa)

Kalau ada sebuah kontes” berbicara terlama”, kawanku ini bisa jadi juara utama atau setidaknya runner up sudah di tangannya.  Bagaimana tidak, kawanku ini sangat ahli menjelaskan hal sederhana menjadi kompleks, apalagi ditambah dengan nada mendayu-dayunya itu. Oh, formula yang sempurna untuk membuatmu terlihat pintar.

Temanku berlogat China

kalo ia bicara, nadanya sengau. dan lucu sekali kawanku satu ini kalo memanggil namaku. ia tak bisa bilang r.

Kawanku dari China: “Hey Liido”

Aku             : not lidoo.. but Ridooo”

Kawanku dari China: “llllidoo”

Aku             : “hahahha.. rrrrrriiiido… rrrrrr”

Kawanku dari China: “llllll”

Aku             : “try this… bread”

Kawanku dari China: “bread”

Aku             : “see, u can do it… barrack obama”

Kawanku dari China: “barrack obama”

Aku            : “reading”

Kawanku dari China: “reading”

Aku : “now just like saying “reading” but change the ‘ding’ part with ‘do’… ‘ri do’”

Kawanku dari China: llliiii dooo”

Aku            : Hahahhaa.. (aku tertawa mati-matian)

Ini mirip sekali seperti adegan2 lawak di tipi yang sering aku liat, bedanya ini kejadian beneran. Kawanku yang satu ini umurnya hampir beda 10 tahun dgnku dan kepintarannya di luar akal sehat. Analisisnya kuat, kritis, dan sudah punya gelar PhD pula. Tapi tak kusangka, pada saat tertentu ngomong “r” saja ia tak bisa. Hehe..

Ada yg berlogat Perancis

Awal-awal aku ngobrol dengan temanku yang ini, ingin segera kuberi ia sesajen dan kembang tujuh rupa, sebab ia bicara mirip seperti dukun yang komat kamit membaca mantra. Susah sekali kupingku menangkapnya. Seperti menggugam-gugam. Pelafalan kata-katanya tercampur-campur dengan bahasa perancis.

contohnya: kalau ngomong “good morning” tapi nada ngomongnya kayak ngomong “bonjour…”

Ada yang berlogat Spanyol

Kawanku yang dari amerika latin umumnya berbahasa spanyol dan kalo ngomong bawaannya udah mau nari salsa aja.. ya gaklah.. Hehe.. Nada bicaranya lumayan cepat. tapi masih lebih mudah dimengerti.

Ada yang berlogat India

Kalo ngomong kepalanya goyang2 kyk patung hoka-hoka bento.. hehe.. Untungnya selama aku di sini, belum pernah kulihat dia berada di padang rumput luas saat hujan turun, mungkin kalo ia di sana ia juga akan tiba-tiba menyanyi  dan menari seperti di film India. Hehe..

Ada yg berlogat Korea

Kalo ngomong, hampir semua suku kata yang berakhiran dengan konsonan ditambahin “e”.

Contohnya: mau ngomong “test”, jadi “tes te”. “Listerine” jadi “Li se te rin”. “Strike” jadi “se te ra i ke”.

Ada yg berlogat Free Style

Nah ini dia yang paling susah diidentifikasi.. tak jelas maunya apa. Para Free Styler yang adalah vertebrata dan mamalia ini, menurut pegalamanku, dapat kita bagi lagi dalam 2 ordo, yaitu:

Freestyler tipe Hemat

Logat bahasa inggris mereka sangatlah hemat.. gimana enggak, hampir semua konsonan di semua kata terakhir dihilangkan, tapi kadang2 tidak dihilangkan. Tak ada aturan. Free style, brooo..  as delicious as his/her belly button wae lah pokoke (seenak udele dewe.. hehe).

Contoh:

Kalau mau ngomong “it is your book”, jadinya ngomong “Iti yo bu”. Konsonan akhirnya hilang.

Tapi pas mau ngomong “I like girl”, jadinya ngomong “ai lai gen” (girl=gen?, like=lai?)

contoh percakapan yang pernah terjadi denganku:

FreeStyler Hemat        : nfkfejlgendlcvnenkoreafkdlnf

Aku                         : sorry?

FreeStyler Hemat        : nfkfejl geeeen.. geeeeen….

Aku                          : I don’t understand.. repeat it again?

FreeStyler Hemat        : geeen… geeeen… korean geen..

Aku                          : (diam.. berusaha mencerna)

FreeStyler Hemat       : geeeen.. geeeen..  ai lai korea geeeeeeeeeen.. (sambil                                                     tereak2 habis kesabaran)

Aku                          : ooo.. i see .. hahahaha..

Aku pun langsung ngeloyor pergi sambil tetap tertawa seolah ngerti. Cari selamat sebelum emosinya meluber keluar. Ini jauh lebih baik daripada ia mencabuti bulu hidungku satu persatu sampai habis tak bersisa hanya dengan menggunakan sumpit atau bahkan lebih parah: menusuk2kannya ke anusku (hiiii.. ). Kemudian aku baru tau kalo maksudnya dia itu “I like Korean girl”.

Freestyler tipe Boros

Kalau yang ini super boros. mirip seperti musik yang sering dimainkan para DJ.

Contoh: Rido… aahhh you you should go you know to to the library you know.. bcause we have aah many aaah many many homework you knooow.. so you know we should go so we can finish the homework you know… because they have the book you know at the library you knooow..

(Beneran ngomong gitu.. bkn melebih2kan)

Summary: you should go to library to finish your homework..

Jadi kalau engkau sedang merasakan bosan dan sepertinya waktu berjalan lambat buatmu, ingatkan aku untuk mengenalkan sahabatku si tipe boros ini kepadamu. Niscaya, Ketika engkau bercengkerama dengannya tak akan terasa hari sudah berganti. Tiba-tiba saja sudah minggu depan. (ini baru berlebihan).

Free Stye Tipe Hemat Vs. Tipe Boros

Nah suatu kali, ketika kepalaku ini sedang nyut-nyut, mood lagi buruk, cuaca lagi panas2nya.. aku berjalan dengan si tipe boros dan si tipe hemat dari kampus pulang ke dormitory. Saat itu si type boros dan si type hemat ngobrol. Sedangkan aku hanya diam saja. Lucu juga mendengar mereka. mereka ngobrol, tapi tak saling ngerti. Ujung2nya mereka saling bertanya I’m sorry? What?. hahaha.. Untunglah mereka tak bicara denganku, saat itu kepalaku lagi pusing sekali.

Namun tak lama kemudian si tipe boros menyentuh pundakku sambil ngomong: “Hey rido..”.

dalam hati aku membathin “mati aku..”

Aku        : yes?

Boros    : fnffdlnd yoooou  akdfansklnasfnas lakjkjklajwr??

Aku        : sorry?

Boros    : fsjfkdsllksd lfkjsdfkjdsfj??

Aku        : ……….. (kepala makin nyut2..)

Boros    : I said dnklndfklsmndfklmnsdfls;dfkj;dlk??

Aku        : sorry? (kepalaku mulai mengeluarkan uap panas)

Boros    :kfkdjfkldjsfksdjfkljdsfkjdskljfldjfkdjfn!!

Aku        : ……….. (idungku kembang kempis..)

Boros    :kfkdjfkldjsfksdjfkljdsfkjdskljfldjfkdjfn!!

Aku sudah tak tahan lagi. Mataku seperti melotot.. nafasku mendengus2. AKu sperti banteng yang siap  menyereduk.. lalu aku menarik nafas dalam2…aku pun teriaak..

AIIIIIII AHA DO I DOKONI HOOOOO….. *)

ia pun diam sejenak dengan ekspresi aneh… Seperti berusaha mencerna dan mencari2 arti “bahasa inggris” yg baru kumuntahkan..

Aku juga diam. Merasa lega.

Ia masih bingung. Aku tak peduli.

Boros    : sorry? (sekarang ia yg bertanya)

Aku        : sorry.. I just talked in my own language..

Boros    : oooo… (tapi dahinya masih mengernyit)

lalu aku pun berjalan pulang dengan bahagia.

Setelah aku pikir2 lagi.. lucu juga.. ditengah orang yang pada umumnya berbahasa korea dan teman2 yang berbahasa inggris dengan dialek british, perancis, spanyol, india, dan lain2 aku malah berbahasa batak. Tak pernah terpikirku aku akan berbahasa Batak di Korea. Dasar Batak!

P.S.:

*) terjemahan bebas dari Kamus Gaul Batak-Indonesia: Ngomong apa seeh looo?

Di tulisan sebelumnya aku sudah mengajakmu ikut kuis sederhana tentang bedanya orang Barat & Timur. Dari situ ketauan 3 hal:

1. Dalam menggolongkan sesuatu:

Orang timur: melihat Hubungan antara objek

Orang barat: melihat kategori mendasar dari objek

2. Dalam melihat sesuatu:

Orang timur: Melihat secara Komprehensif

Orang barat: Melihat kesamaan Parsial/detail

3. Dalam menilai sesuatu:

Orang timur: Melihat dari Substansi-nya

Orang barat : Melihat dari  objek akhirnya

Nah, selain 3 hal di atas, ada lagi perbedaan timur dan barat, yaitu:

4. Dalam menjelaskan fenomena tertentu dan memprediksi:

Orang Barat: Lebih melihat karakter dari objek tertentu.

Orang Timur : Lebih melihat hubungan antara karakter objek dikaitkan dengan lingkungannya.

Contoh:

Jika orang barat diminta menjelaskan suatu kejadian pembunuhan atau memprediksi suatu hasil olahraga, maka mereka cenderung mengaitkannya dengan karakter, kemampuan, dan sifat internal dari si individu. Jadi seseorang membunuh karena ia memiliki sifat pendendam, dll. Tim “X” bakal menang dalam pertandingan karena kemampuan Tim X lebih mumpuni dari tim lainnya.

Sedangkan Orang  Timur lebih mengaitkan dengan konteksnya yang berkaitan dengan faktor eksternal di luar si individu, misalnya faktor sejarah. Jadi ia membunuh karena mungkin situasi saat itu membuat ia jadi membunuh, atau dari kecil ia sudah diperkenalkan dengan kekerasan. Tim “X” bakal menang karena dilihat dari pengalaman masa lampau mereka cenderung menang jika bertanding di kandang sendiri.

5. Dalam Membedakan Objek dengan Lingkungan Sekelilingnya

Orang Timur: Kesusahan membedakan antara objek tertentu dengan lingkungannya sekelilingnya. Ini berkaitan dengan sifat orang timur yang melihat sesuatu secara komprehensif, akibatnya orang asia kesulitan membedakan antara objek utama dengan lingkungan sekelilingnya.

Orang Barat: Lebih gampang membedakan antara objek dengan lingkungannya. Karena mereka melihat sesuatu secara parsial (detail).

6. Dalam mendidik

Orang Timur: Kalo Orang tua mendidik anaknya atau guru mendidik muridnya, isinya lebih banyak kata kerja. contoh: “Ani, duduk!”, “Budi, tidur siang!!”, “Jangan nangis!!”, “Ayo dicatat!”

Orang Barat: isinya lebih banyak norma-norma. contoh: “Jasmine, ini apa?”, “Itu kamu lagi ngapain?”, “Menurut kamu gimana?”

Lihatlah video ini, tentang bagaimana perbedaan ibu di timur dan barat ketika menemani anaknya bermain.

7. Dalam kemandirian

Orang Timur: lebih tergantung ke orang lain.

Orang Barat: lebih mandiri. Sejak dari kecil orang barat dididik untuk mandiri mulai dari tidur sendiri dan melakukan segala sesuatu sendiri.

Nah, pengaruhnya  perbedaan sudut pandang itu apa?

Sebenarnya ada banyak yang bisa ditarik dari perbedaan-perbedaan itu. Tapi 5 sajalah dulu ya:

1. Orang Asia dalam bertindak itu sepertinya (lebih/terlalu) berhati-hati. (Terlalu) banyak yang harus dipertimbangkan. (Terlalu) memikirkan dampak-dampaknya. Misalnya: Danu cinta Siti. Ia ingin menikah. Tapi tak segampang itu, Siti harus melihat dulu latar belakang keluarga si Danu. Dari keluarga baik2 gak?! taat beragama kah?! punya sejarah kawin cerai di keluarganya mungkin? dll. Belum lagi orang tua dari kedua belah pihak harus dilibatkan dalam menilai si calon menantu. Lalu orang tuanya melihat bibit, bebet, bobot.  Di tambah lagi hubugan Danu dan Siti itu harus dikaitkan dengan aturan-aturan adat dan norma-norma yang harus dipatuhi. Daftarnya panjang. Cinta saja tak cukup.

Mungkin inilah dampak orang asia yang melihat sesuatu secara” keseluruhan”. Namun sebaliknya “melihat secara keseluruhan” ini juga yang membuat orang asia tak gampang “salah menilai” tentang orang lain.

2. Sepertinya orang asia lebih menilai orang lain dari kualitasnya. contoh: orang pinter itu lebih dianggap keren di asia tapi dianggap aneh, membosankan di barat. Orang ganteng/cantik itu lebih dikagumi di barat dibandingkan di Asia (seorang gadis blonde itu tetap jadi idola dan dikagum-kagumi meskipun tak terlalu pintar. Hmm.. Paris hilton bisa jadi contoh gak ya..). Sedangkan di Asia kegantengan/kecantikan itu setidaknya masih harus diimbangi dengan kualitasnya (kira-kira banyakan idolanya Cinta Laura atau Sherina ya?).

3. Orang asia cenderung lebih loyal (gampang diarahkan/di-perintah2) dan kurang mampu mengekspresikan perasaannya. Hmm.. mungkin itu juga sebabnya LSM dan demonstrasi itu lebih menjadi budaya barat daripada Timur. Mungkin inilah efek dari dari kecil udah “disuruh2″ atau “diperintah”. Akibatnya, orang asia lebih banyak bermental “baik, pak.. laksanakan!” dan kurang bebas berekspresi. Kalau di sekolah lebih banyak mencatat daripada berpendapat. Sedangkan orang Barat dari kecil sudah diberi kebebasan untuk menentukan sendiri maunya apa, pendapatnya bagaimana, alasannya apa. Tapi efek dari loyalitas itu, orang asia sepertinya lebih tahan banting dalam bekerja tanpa perlu banyak bertanya “kenapa aku harus melakukan ini?”.

4. Orang asia sulit hidup sendiri. Buat orang asia, keluarga, tetangga, teman itu tak terpisahkan dari kehidupannya. Segala tindakan yang diambil sebisa mungkin menyenangkan semua pihak. Buat orang barat, hidup mandiri di suatu tempat tak jadi masalah.

5. Orang asia lebih cenderung minta dilayani daripada orang barat. Dampak lain dari ketergantungan/kemandirian ya begini. Jika orang asia punya duit walaupun pas-pasan sebisa mungkin ia memiliki orang lain untuk melayaninya. Misalnya di asia adalah lazim punya pembantu rumah tangga penuh waktu dalam urusan menyuci, memasak, menjaga anak, dan hampir semua urusan lainnya walaupun itu keluarga kecil dan berpenghasilan menengah. Sedangkan orang barat cenderung melakukan sendiri. Jika kondisi terdesak baru mereka menggunakan pembantu, itu pun untuk urusan tertentu saja (babysitter atau menata taman sebulan sekali), kecuali kalau mereka adalah keluarga yang sangatlah makmur.

Kesimpulan

Jadi begitu.. memang benar orang Timur dan Barat itu berbeda dari sisi budaya dan sudut pandangnya. Tapi di akhir kelas, professorku pun mengambar sebuah lingkaran.



Jadi menurut si professor, faktor budaya dan sudut pandang itu tak berpengaruh banyak terhadap pribadi seseorang. Ada banyak faktor lain yang mempengaruhi seperti perbedaan jenis kelamin, perbedaan generasi, dan justru porsi terbesar adalah kepribadian individu itu sendiri. dan kepribadian individu itu dapat dibagi lagi dalam faktor: inteligensi, kepribadian (9 tipe enneagram atau 4 tipe kepribadian), kematangan emosi, dll.

Pesan moralnya mungkin begini, penelitian ilmiah ini hanya ingin menjelaskan mengapa orang timur dan barat berbeda dalam menanggapi situasi yang sama. Tapi tak serta merta pula lalu kita mengecap sesorang itu berdasarkan budaya seseorang karena ternyata yang paling berpengaruh itu adalah kepribadian tiap individu itu sendiri. Jadi tak usahlah takut berteman dengan siapa saja, dari suku mana saja dan bangsa mana saja.

Mungkin begitulah maksudnya..

Teman-temanku di kampus itu campur-campur orangnya. Ada orang timur, barat, dan afrika juga ada. Nah, ada aja dalam suatu saat-saat tertentu terkadang aku sering bertanya sendiri ketika melihat orang dari belahan dunia lain merespons terhadap sesuatu. Aku sering bertanya “kok bisa ya mereka mikir/bertindak begitu? Gak masuk akal!!”

Lalu dengan piciknya aku mengambil posisi Tuhan dan mengelompokkan mereka ke dalam golongan tertentu. Ooo… kalo orang Afrika itu pasti orangnya “begini”, orang Barat itu “begitu”.. Orang Asia itu “begini”. Samalah kira-kira kayak di Indonesia. Kalo orang Padang itu pelit, padahal aku punya temen dekat suku Padang yang murah hatinya minta ampun (namanya si Jeni Wardin). Kalo orang Jawa itu ngomongnya lembut tapi di belakang nusuk, padahal aku punya temen dekat juga yang suku Jawa (Jawa Tengah loh) yang ngomongnya suka kasar tapi kalo masalah setia kawan dan diajak sama-sama susah, dia tak bisa diimbangi (namanya Agusta Rizar Binadja).  Kalau tak percaya, cobalah cari dan bertemen dengan si Jeni dan Agusta itu, nanti kalian tau sendiri. Sampai sekarang mereka masih hidup.

Mengerti kan maksud aku. Jadi aku di sini mulai mengelompokkan orang-orang dengan sifat2 buruk tertentu. Terutama antara orang Barat dan Timur. Karena menurutku, entah kenapa antara yang dua ini benar-benar berbeda.

Nah beruntung juga, salah seorang professor menjelaskan bedanya orang barat & timur secara ilmiah. Di kelas, ia membuat eksperimen kecil. Dibaginya kami dalam 3 kelompok: Asia, Barat, Afrika. Setiap kelompok disuguhi beberapa gambar dan diminta memilih jawaban.

Daripada bingung, coba jawab kuis sederhana di bawah ini.

1. Coba kelompokkan Monyet satu ini. Cocoknya ke “Pisang” atau ke “Panda”?

kemanakah monyet ini lebih cocok dikelompokkan?
kemanakah monyet ini lebih cocok dikelompokkan?

2. Coba kelompokkan setangkai bunga di tengah. cocoknya ke “Group A” atau Group B”?

Bunga yang ditengah lebih cocok ke Group 1 atau Group 2?
Bunga yang ditengah lebih cocok ke Group A atau Group B?

3. Nah satu lagi, coba kelompokkan silinder kayu yang ditengah. Cocoknya dikelompokkan ke silinder plastik (warna biru) atau balok kayu (warna cokelat)?

Kemanakah silinder kayu dikelompokkan?
Kemanakah silinder kayu dikelompokkan?

Sudah?

Nah, jika jawabannya: (1) Pisang (2) Group A (3) Balok Kayu , maka engkau sangatlah Asia, karena kebanyakan orang Asia ya jawabnya begitu.

Nah, jika jawabannya: (1) Panda (2) Group B (3) Silinder Plastik , berarti engkau sangat Barat. Lah tapi sampeyan itu orang timur kok bisa jawab kayak orang Barat? Ooo.. aku mengerti. Mungkin sampeyan kebanyakan ngupi di Starbucks sambil hotspotan, sementara warung kopinya Kang Mamat yang menyediakan kopi tubruk itu sudah hampir tak pernah disambangi. Jadinya ya gitu, jawaban sampeyan jadi kebarat-baratan. Hehe..

Nah, jika jawabannya kecampur-campur. Hmm.. kalau ini susah juga. Bisa jadi sampeyan kebanyakan ngupi di starbucks tapi pas sarapan selalu saja pesan lontong sayur dan gorengan jualan istrinya Kang Mamat itu. Hmm.. perlu penelitian lebih lanjut..

Penjelasannya begini:

Pertanyaan 1:

Mayoritas Orang asia  menjawab pisang. Alasan: Kan monyet makan pisang.

Mayoritas orang Barat menjawab Panda. Alasan: Monyet & Panda kan sama2 binatang, Om! (hmm.. bener juga..)

Menurut penelitian, ternyata Orang Asia itu lebih mementingkan”hubungan” dan “kekerabatan” (relationship and Family Resemblance) dalam mengkategorikan sesuatu. Makanya Monyet itu walaupun sama-sama binatang tapi ia lebih berhubungan erat dengan pisang, karena monyet makan pisang. Sedangkan Orang Barat cenderung mengkategorikan sesuatu berdasarkan aturan klasifikasi mendasar, panda dan monyet ya sama-sama binatang. Titek.

Hasil eksperimen di kelas kami: Bener ternyata.. hampir semua yang Asia jawab Pisang dan semua yang Barat jawab Panda. yang Afrika terbagi dua sebagian mereka jawab Pisang sebagian lagi Panda.

Pertanyaan 2:

Mayoritas Orang asia  menjawab Group A. Alasan:  setangkai bunga yang ditengah secara keseluruhan lebih menyerupai bunga-bunga di  group A.

Mayoritas orang Barat menjawab Group B. Alasan: setangkai bunga yang di tengah itu, salah satu elemennya menyerupai dengan  bunga-bunga di group B, yaitu: seluruh bunga di group B memiliki tangkai bunga yang sama.

Menurut penelitian, Orang Asia melihat sesuatu  dengan cara “komprehensif” atau “keseluruhan”. Makanya bunga itu, buat orang Asia, lebih cocok ke group A, karena walaupun semua bunga di group A gak sama persis tapi secara keseluruhan lebih mirip ke group A.  Nah kalo orang barat melihat sesuatu secara “parsial/bagian tertentu” dari satu objek. Makanya buat mereka bunga itu lebih cocok ke group B karena semua tangkainya sama.

Hasil eksperimen di kelas: bener lagi.. hampir semua yang Asia menjawab Group A sedangkan yang Barat sebaliknya. Kembali yang kelompok Afrika terbagi dua.

Nah ini versi lainnya, jika Orang Asia diberi suatu gambar maka orang Asia akan melihat gambar itu secara keseluruhan. Seperti gambar di bawah, buat orang Asia, gajah adalah bagian dari keseluruhan pemandangan. Sedangkan buat Orang Barat, gajah adalah objek utama. Seolah-olah gajah itu membesar dan pemandangan di belakangnya menghilang.

Asia melihat keseluruhan background dan Objek, Barat fokus ke Objek
Asia melihat keseluruhan background dan Objek, Barat fokus ke Objek

Pertanyaan 3:

Mayoritas Orang Asia  menjawab Balok Kayu. Alasan: bahan bakunya sama-sama kayu.

Mayoritas orang Barat menjawab Silinder Plastik. Alasan: bentuknya sama, yaitu silinder.

Menurut penelitian, Orang Asia melihat sesuatu dari “substansi”nya. Penampilan luar boleh lain tapi kualitas subtansinya tetap sama.  Sedangkan Orang barat melihat sesuatu dari “objek” akhirnya, tak peduli substansinya seperti apa.

Hasil eksperimen di kelas: lagi-lagi bener.. Hampir semua orang Asia menjawab  Balok Kayu sedangkan yang Barat sebaliknya. sedangkan kelompok Afrika tetap terbagi dua jawabannya.

Nih, aku pajang video hasil jawaban orang Timur dan Barat tentang kuis di atas. Iya sih, videonya bahasa korea tapi ada bahasa inggrisnya juga.

Lah, trus ngaruhnya perbedaan sudut pandang itu emang apa?

Sudah malam di sini. Besok-besok aku lanjutkan lagi…  aku mau online skype dulu. Mau telpon gratis ke tanah air.

Untuk orang yang mau berjalan-jalan ke Beijing  tanpa melalui paket tour dari agen dan berdana pas-pasan maka aku punya tips khusus untukmu.

1. Jangan berpikir ribet.

Berpikir sederhana saja, yang paling perlu dipersiapkan hanya 3 hal:

a. Tiket Pesawat pulang-pergi

b. Tempat tinggal di sana

c. Paspor dan Visa

2. Beli tiket pesawat

Tak ada sampan dari Indonesia-Beijing. Mau tak mau naik pesawat. Kau bisa beli ke travel agency namun juga bisa beli secara online melalui www.expedia.com . Aku telah membeli tiket melalui situs ini dan tidak ada masalah. Bahkan salah satu travel agency dari China juga menganjurkanku untuk membeli melalui expedia. Di situs ini, kita bisa memantau harga tiket ke luar negeri dengan harga murah dari berbagai maskapai international. Situs ini bisa dijadikan acuan harga apabila memutuskan membeli dari agen lokal. Situs lain juga ada, www.lonelyplanet.com

3. Tempat tinggal

Janganlah mencari hotel berbintang untuk menginap. Cari saja hostel. Yang penting posisinya strategis dan bersih. Kunjungilah situs-situs yang menyediakan informasi tentang hostel-hostel beserta dengan reviewnya. Aku memakai www.hostelworld.com. Di situs ini kita bisa cari harga hostel yang paling murah di seluruh dunia beserta rating dan komentar-komentar dari orang yang pernah berkunjung ke sana. Melalui situs ini, aku memilih Beijing Forbidden City Hostel dengan alasan posisinya yang sangat strategis (dekat forbidden city) dan murah. Jika anda merasa perlu online, maka carilah hostel yang menyediakan layanan internet gratis, karena di beberapa hostel masih perlu bayar lagi untuk internet. pengalamanku di Forbidden City Hostel, meskipun itu adalah hostel, namun fasilitasnya sama seperti hotel. Kamar bersih, fasilitas kamar mandi, TV, dan sebagainya sangat memadai.  Untuk hostel ini, untuk kamar double bed satu malam biaya nya hanya sekitar $8/orang (kurang dari Rp. 80.000 per malam per orang), jadi total untuk satu kamar sekitar $16 saja. Bahkan untuk yang satu kamar kapasitas 4 orang harganya lebih gila lagi, seorangnya hanya perlu bayar kurang dari $5. Kunjungilah situs itu, dan lihat sendiri harganya. Murah meriah. Dan untuk booking kau cukup bayar 10% saja dulu, sisanya bisa dibayar nanti pas sudah di tempat.

Beijing Forbidden City Hostel: TV dan Kabel LAN buat Internet Gratis

Forbidden City Hostel: Kamar Twin Bed Deluxe, TV, LAN Kabel, dan Kamar Mandi Bersih

4. Paspor dan Visa

Paspor bisa diurus di kantor imigrasi setempat di kotamu, biayanya sekitar 300 ribuan. Jika Visa, uruslah di kedutaan Cina. Namun jika kau punya paspor biru (paspor dinas) maka untuk pergi ke China tak perlu Visa sama sekali asalkan tak lebih dari 30 hari.

5. Jangan lupa untuk Cetak alamat Hostel dengan aksara China

Jangan lupa untuk mencari “alamat hostel” dan “cara menuju lokasi” yang disediakan oleh pemilik hostel setelah kau booking di internet. Jika mereka tidak mencantumkannya di situs, kirimlah email ke email hostelmu dan tanya bagaimana cara menuju hostel itu dengan berbagai alternatif beserta harganya (Jika naik taksi, airport bus, dan express train). Dan jangan lupa minta dikirimkan alamat hostel dalam aksara Cina. Lalu cetaklah. Ini sangat dibutuhkan saat bertanya ke penduduk lokal. Mayoritas dari mereka tidak bisa membaca aksara latin.

6. Berpergian ke lokasi wisata

Nah, mengenai hal ini ada 2 solusi. Kau bisa pergi sendiri dengan transportasi lokal atau ikut tour harian. Biasanya di setiap hotel selalu ada jasa tour harian yang menyediakan mobil van khusus dan seorang tour guide berbahasa Inggris. Nyaman. Biayanya cukup murah, contohnya untuk tour 1 hari ke Tembok Cina (Badaling), Ming Tomb, Tempat Pembuatan Sutra, Pabrik Teh, pabrik Jade hanya butuh biaya 150 Yuan/orang (sudah termasuk mobil, lunch gratis, dan guide).

7. Awasi keramahan penduduk lokal

Berhati-hatilah dengan keramahan orang Beijing yang kau temui secara acak di jalan, restoran, atau tempat-tempat umum lainnya. Aku mendengar banyak cerita dari petugas hostel kalau banyak orang Beijing yang berusaha menipu turis dengan mengajak kita ngobrol. Setelah itu ia akan mengajak kita ke suatu tempat, entah itu ke restoran, tempat minum teh atau sebagainya. Di sana mereka sudah berkomplot dengan pemilik restoran dan memberikan tagihan yang terlampau mahal kepadamu. Nantinya si teman barumu itu akan kembali lagi ke restoran itu dan meminta bagiannya dari pemilik restoran. Jika mau punya teman, ajaklah bicara sesama para turis. Namun jika mau punya musuh, ludahi saja muka orang Beijing, niscaya musuhmu langsung bertambah.

8. Kejamlah dalam menawar

Di toko-toko/stand-stand pinggir jalan di Beijing, tak ada yang namanya aturan: tawarlah 1/3 dari harga yang diberikan penjual! Masalahnya, si penjual juga tau psikologi pembeli yang sudah tau tentang  trik “menawar 1/3 dari harga pertama” itu. Jadi, mereka menaikkan harga lebih tinggi lagi.  Hanya ada satu cara, kawan: kejamlah dalam menawar.

Daftar Harga Bed Cover Sutra di Beijing (Sutra, Teh, dan Jade adalah salah satu souvenir andalan dari Beijing)

Sini, aku kasih tau salah satu contoh penerapannya:

b. Tanya di toko/stand pertama, tapi jangan membeli!

Di toko pertama, untuk barang A jika dia tawarkan harganya 150 Yuan maka tawarlah 5 atau 10 Yuan saja! Si penjual akan berceloteh dan sebagainya lalu dia mulai menurunkan harga. Dia memintamu menaikkan harga. Namun jangan menaikkan harga terlalu tinggi. Katakan saja 6 Yuan atau 12 Yuan. Sampai akhirnya dia akan terus turun dan meminta kita menaikkan harga lagi. Namun tetap tunjukkan niatanmu untuk membeli. Sampai akhirnya misalnya dia menawarkan 30 Yuan dan membiarkan kita pergi tanpa membeli berarti kita tahu jika harga sebenarnya berarti sekitar 30 Yuan.

c. Pilihlah toko/stand dengan penjual yang berjenis kelamin berlawanan

Jika kau pria, pilihlah penjual yang wanita (dan sebaliknya) untuk toko pertama. Ini bukan untuk mencari jodoh, namun tak tau benar atau tidak tapi berdasarkan pengalamanku rasa-rasanya secara psikologis ini akan berpengaruh untuk membantu mencairkan ketegangan. Nah, itulah gunanya memilih penjual berjenis kelamin berlawanan. Sehingga kau bisa lebih mempengaruhi si penjual, dan jika kau pun tidak jadi membeli di tokonya kau masih bisa sambil tertawa-tawa saat meninggalkannya sambil melihat ke arah si penjual yang sedang mengeleng-geleng sambil tersenyum-senyum. Win-win solution, tak ada yang tersinggung. Mudah-mudahan saja si penjual punya anak dan kau pun dijodohkan dengannya.

d. Berpindah ke toko kedua, tanya harga barang yang sama, tawar sekadarnya, lalu beli

Di toko kedua, sudah jangan banyak tanya lagi untuk jenis barang yang sama(barang A). Langsung saja tawar 15-20 Yuan. Jatuh-jatuhnya kemungkinan besar tidak akan jauh dari yang pertama yaitu 25-30 Yuan dan kau pun bisa langsung membeli. Tak perlulah seperti ibu-ibu yang menanya-nanya ke 10 toko untuk barang yang sama. Cukup bandingkan harga di 1 toko saja, asalkan kau betul-betul memaksimalkannya di toko pertama. Efisien.

e. Jangan terlihat Angkuh

Musuh terbesar dari penjual adalah orang yang angkuh dan mencela barang dagangannya. Jangan lupa untuk selalu tersenyum. Bercanda jika bisa. Cairkan suasana . Saat proses tawar menawar, terus bilang “no money” “I m a student..” “I am from poor country” atau kalau mau lebih dramatis lagi katakan saja bahwa kau adalah anak yatim yang dibuang di bawah kolong jembatan di Indonesia lalu terbawa arus sungai sampai ke lautan dan terdampar di daratan Cina. Mungkin dia akan terharu dan memberikan barang itu gratis kepadamu atau kemungkinan terburuknya kepalamu akan bocor karena dipukul pakai botol oleh si penjual.

9. Panduan Rincian Biaya

Inilah kira-kira rincian biaya yang dikeluarkan ke Beijing untuk 5 hari 4 malam sebanyak dua orang.

a. Tiket Jakarta-Beijing (Pulang Pergi)-$500/orang x 2 orang:

$1000

b. Kamar double bed: ($ 8 x 2 orang )x 4 malam

$ 64/kamar

c. Tour Harian untuk hari 2 (Tembok Cina, Ming Tomb, Pembuatan Teh, Jade, Sutra, Lunch Gratis) 150 Yuan ($ 22)/orang:

$ 44

d. Tour harian untuk hari 3 (Forbidden City, Summer of Palace, Temple of Heaven, Pembuatan Teh, Pembuatan Sutra, Lunch gratis)-220 Yuan ($32)/orang x 2 orang:

$64

e. Makan (menu standar):

7-25 Yuan/orang X 10 kali x 2 orang  = 140-500 Yuan ($21- $75)

Total biaya adalah $ 1193 s.d. $ 1247 untuk 2 orang, artinya $ 597 s.d. $ 624/orang.

Catatan: belum termasuk souvenir dan pembuatan visa atau paspor.

Lihatlah, porsi terbesar biaya adalah untuk tiket pesawat ($500/org), sedangkan untuk diluar itu hanya butuh biaya sekitar $100 (sejuta rupiah) saja. Jadi tunggulah saat ada harga tiket promo…

Benar-benar tak habis pikir. Jauh-jauh aku melanglang buana ke Beijing, bisa-bisanya ketemu makhluk aneh ini. Mereka benar-benar aneh, lebih aneh dari binatang bebek yang lehernya panjang tapi kakinya pendek.

Tak cukup rasanya bercerita tentang ketiga makhluk aneh ini dalam artikel sebelumnya. Mereka terlalu berharga jika dicampur dengan artikel lain. Maka aku mengkhususkan mereka dalam sebuah artikel ini. Cerita ini diawali dengan bagaimana aku bertemu dengan 3 makhluk aneh ini,yang adalah orang Indonesia, di Beijing.

Awal Bertemu

Jadi kawan, semua musibah ini berawal waktu aku sedang bercerita dengan pegawai hotel, tempatku tinggal di Beijing, dan tiba-tiba saja dari salah satu pojok ruangan aku mendengar salah seorang wanita berujar ke orang di sebelahnya, “I’m from Indonesia”

(Ziiiiiiiiiiiiiinngggggg… )

Mendengar kata ”Indonesia” rasa nasionalismeku pun berkobar.. aku pun bertanya ke resepsionis hotel yang aku sudah akrab dengannya, “Hi Catherina, any other indonesian staying in here now?”

“Yeaah.. room number bla bla bla… ” jawab si Katrina.

Ahaaa… akhirnya aku telpon kamarnya dari front desk :

“Eh sori ganggu, dari Indonesia ya… enggak cuma mau …. bla bla bla ”

Eh si cewe di ujung sana jawabnya “ eh uhhmm eeh, iya paak, iya paak, iyaa paak”

Dalam hati aku berpikir, ini orang sarap kali yak dari tadi jawabannya ”iya pak” mulu.

Ah sudahlah, akhirnya aku ketemu dengan 2 dari 3 makhluk aneh itu, Dini dan Inge. Satu lagi bernama Hanna namun saat itu ia sedang tidur. Hehe..

Nah, di awal-awal ngobrol dengan mereka semuanya berlangsung lancar. 5 menit pertama, mereka masih terlihat seperti wanita normal. 10 menit setelahnya, 20 menit berikutnya.. hmmm… terkuaklah satu demi satu keanehan mereka.. contohnya, si Dini selama 3 hari di Beijing belum pernah mandi sampe aku bertemu dengannya hari itu. Hmmm… cukup.. cukup. Cukup aneh.

Petualangan bersama mereka

Malam harinya, aku bersama 3 makhluk aneh itu (Inge, Dini, dan Hanna) berjalan-jalan di Wangfujing Street.

Melancong di jajanan malam Beijing (Kiri ke kanan: Hanna, Dini, Inge)

Di sini ada buanyaak sekali jajanan pinggir jalan. Dan mulailah mereka berkicau-kicau!! Aiiih, pernahkah kau berusaha mendengarkan 3 orang yang berbicara seperti teriak2 pada waktu bersamaan?! Kuberitahu, itu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan ketiga orang ini. Pernahkah kau ketika sedang berbicara seperti teriak2 dan pada saat yang bersamaan ada 2 orang lain yang juga berbicara seperti teriak2 ke arahmu?! Bisakah kau mengerti kalimat 2 orang lainnya itu?! Bisa.. ketiga makhluk  ini bisa. Meskipun 3 makhluk ini saling nyerocos satu sama lain, dalam waktu yang bersamaan, dengan volume yang cukup keras, entah bagaimana mereka bisa saling mengerti!! Mereka berkomunikasi!!! Oh Tuhan… sempat terpikir olehku untuk menelepon Roy “Sukro”, pakar telematika itu, untuk menjelaskan fenomena ini (hubungannya apa?!). Seketika aku merasa sedang bersama-sama, bukan 3, namun 20 orang Indonesia.

Jadi Pendiam Waktu Liat Makanan

Lihatlah Hanna Memandang Takjub ke Arah Buah-Buahan itu

Bukan itu saja, ketika kami sedang berjalan-jalan di jalan yang sama, dengan elegannya si Dini merusak salah satu pembatas jalan lalu dengan cueknya meninggalkan benda malang itu sendirian tanpa rasa bersalah. 1 menit kemudian, datanglah polisi berusaha memperbaiki benda itu.. Di wajah polisi itu terlihat air muka tertekan seperti habis ditinggal istri bertahun-tahun yang kira2 dalam hati mungkin berkata begini

“ sing wau ta ai ni, xie xie wo ai ni tian an men lay lay deng xiao ping mao ze dong aye aye.. (artinya: Ampuuuun ampuuun.. kerjaan siapa sih ini?! Mana udah malam-malam begini, dinginnya gak ketolongan, masih ada aja yang tega buat ane kerja beginian. Gustiii… Gusttiiii… gaji gak seberapa…)”

Tangannya yang membeku berusaha menarik2 benda malang itu, korban kekejaman Dini. Sedangkan kami, tepatnya si Dini, berlalu sambil menutupi wajah dengan ekspresi “bukan saya, Pak!”

Oh Tuhan, berjalan bersama mereka membuat jantungku berdetak gak karuan.. berdetak karena senang, karena lucu, dan berdetak karena bertanya-tanya “bakal ada kejadian apa lagi setelah ini??”

Kondisi Kritis

Sepulangnya ke hotel, barulah terkuak sebuah cerita sedih nan bahaya bahwa sebenarnya mereka dalam kondisi terancam gak bisa balik ke Indonesia karena gak ada tiket buat balik. Ehem ehem, saya ulangi, Gak ada tiket buat balik!!! Parah! Sebelumnya mereka sudah cerita namun aku kira tak sekritis itu. Ckckck.. padahal hari seninnya mereka harus sudah masuk kerja., dan itu hari Jumat. Yang aku gak habis pikir, mereka dalam kondisi yang sangat kritis begitu namun tetap aja bisa cekikikan. Oh, sungguh aku kagum, mereka sangat berfikiran positif. Ingin aku mengacungkan kedua jempol kakiku ke dalam lubang hidung mereka. Siapa tau nemu upil yang telah menghambat syaraf panik mereka.

Malam itu, mereka mencari-cari tiket pesawat dari internet seperti lagi main tornado di Dufan, berisiknya tak terkira.. tamu-tamu di hotel yang kebetulan lewat sampe keseleo lehernya karena harus berkali-kali nengok kearah ketiga makhluk ini, yang suaranya mirip toa. Tapi untungnya para tamu-tamu itu telah diberi balsem untuk lehernya.

Ah menyaksikan mereka berkomentar, berdebat, membuatku senyum-senyum sendiri. Sungguh lucu menyaksikan tingkah mereka. Si Hanna, makhluk paling pinter yang berfikir paling rumit. Dialah yang sibuk berkutat di depan laptop buat nyari-nyari tiket.. sementara si Inge, makhluk yang paling dewasa di antara mereka dan selalu menjadi penengah, dialah yang ngemongin 2 makhluk aneh lainnya. Sedangkan si Dini, makhluk yang kerjaannya ngerecokin dengan ngomong, “Nah, iya gitu aja…” “Aduuh.. gimana ini?” ”Nah kalo itu harganya berapa?” “yaaah, gak bisa dooong…” tapi dialah makhluk yang paling ceria, berpikiran positif di antara semuanya sekaligus yang paling kocak. Berada dekatnya, 100% awet muda. Tidak puas, uang kembali di alam baka.

Suasana Serius: berdiskusi tentang alternatif solusi pulang ke Jakarta

Suasana Kritis: Dini lemes, Inge panik, Hanna serius.

Tetap Aja: Begitu sadar lagi di foto, Inge dan Dini langsung bergaya lagi!! Cuma Hanna yang masih serius.

Di sela-sela kepanikan mereka ada aja yang dibahas yang membuatku terpaksa tersenyum. Mulai dari masalah berat sampe masalah perdebatan obat abotyl itu gunanya buat apa. Salah satu dari mereka ngotot kalau itu untuk vagina, ada yang bilang buat sariawan, ada yang bilang buat hidung kalau lagi mimisan. Sebenarnya tidak penting siapa yang benar, tapi menyaksikan mereka berdebat dengan saling ngototnya itulah yang membuat aku tersenyum.

Ada banyak cerita lain bersama mereka yang membuatku tertawa, misalnya  waktu kita jalan-jalan ke Tiananmen Square dan Dini yang bertabiat berisik itu tiba-tiba berubah jadi pendiam karena kedinginan.

Kedinginan: Si Dini cuma bisa diam sambil menutup wajahnya di Tiananmen Square

Tetap Aja: Meski sedang kedinginan, demi urusan berfoto, si Dini kembali bergaya..

Belum  lagi cerita tentang bagaimana mereka sehabis berbelanja di Silk Market Beijing sampai diliatin polisi dengan curiga. Polisi itu mengira mereka adalah penduduk setempat yang ingin berjualan di trotoar. Itu karena waktu keluar dari Silk Market, mereka membawa belanjaan dengan kantong  sangaaat besar, yang mirip dengan orang yang mau jualan di pinggir jalan. Hahahaha.. Mungkin banyaknya belanjaan mereka agak di luar akal sehat jika dibandingkan para turis lainnya yang tentunya masih waras. Entahlah…

Yang jelas, aku beruntung bertemu mereka. Petualanganku di Beijing menjadi semarak karenanya. Mereka orang baik, senang rasanya bisa seperjalanan dengan mereka.

Salut buat Dini, Inge, Hanna…

Semoga kalian jaya di sana..

“Dasar Beijingan!”

Istilah kekaguman yang diperuntukkan kepada orang yang sudah pernah ke Beijing.

(Ridopedia)

19 -23 Januari adalah hari yang menyenangkan untuk tahun 2010.Tepat pada tanggal itu aku melancong seorang diri ke Beijing. Hanya berbekalkan duit seimprit, bahasa Cina sekadar “xie xie”, dan info dari internet, aku memutuskan untuk liburan ke sana selama 5 hari. Mungkin akulah yang disebut backpacker tapi bawa koper. Hehe..

Incheon Airport: Saat Menunggu Keberangkatan menuju Beijing

Banyak sahabat bertanya, “Ngapain ke Beijing sendirian, gak seruuuu..”

Ah  sebenarnya tujuanku hanya ingin ke Beijing, tak peduli berapa orang yang ikut denganku. Kalau ada yang ikut lebih baik, tak ada pun tak mengapa.  Jadi pas aku tua nanti, aku bisa cerita ke sahabat di warung kopi langganan sambil mengangkat satu kaki di kursi, “ Biar kau tau.. Udah pernah kuinjakkan kakiku di Tembok Cina itu!”

Atau dengan sahabat kental aku bisa membual, “Dimana kau pernah kencing paling jauh? Kalau aku… udah pernah kukencingi Tembok Cina itu!” Tak lupa waktu bercerita aku akan mendongakkan kepala sambil mengambil selembar fotoku saat berpose di Tembok Cina dari dalam dompet buluk yang  berusia puluhan tahun.

Dengan sahabat yang kandungan lemak dan proteinnya hanya sedikit di otak, lebih sedap lagi jika membual. Aku bisa berkata begini, “Ternyata, Cap Cay yang asli dari Cina itu berkhasiat! Waktu aku di Beijing, karena tiap hari aku makan, tiba-tiba aku bisa bahasa Cina dengan sendirinya! Mantap kali.. Nah, karena aku bisa bahasa Cina, 10 perempuan di sana sampe terkapar-kapar kubuat karena rayuanku dan 2 dari mereka minta kunikahi! Kurang paten apa coba! ”

“Ah yang betul kau?! Ngeri kali! Tapi sekarang kok gak bisa lagi kau bahasa Cina?” Mungkin begitulah sahabatku itu kira-kira akan bertanya.

“Itulah masalahnya.. balik dari sana, tak pernah lagi aku makan Cap Cay asli dari Cina. Jadi cemanalah, lama-lama ilang bahasa Cinaku!” sambil menggeleng-geleng, pura-pura menyesal.

Hehehe..

Tapi yang ini jujur, pengalaman melancong sendiri ke Beijing sungguh menyenangkan.

Beijing: Suasana, Masakan, Tempat Bersejarah

Sesampainya di Beijing, sekilas aku melihat bahwa kota ini jauh lebih baik dari Jakarta, gedung-gedungnya, fasilitas transportasinya, kondisi jalan, dan sebagainya.  Dan banyak sekali orang yang bersepeda di trotoar jalan. Anak-anak, kaum muda, wanita, bahkan orang tua semuanya mereka bersepeda.  Padahal fasilitas bis maupun subway sudah memadai.

Lalu jika melihat ke arah daerah taman-taman kota, selalu saja ada sekelompok lansia yang dengan asyiknya berjoged-joged ria mengikuti alunan musik. Ada yang berjoged berpasangan, berdansa ala barat, dan ada juga yang mengikuti gerakan Tai Chi. Tampaknya para lansia di sana sadar betul tentang pentingnya mengolah raga.

Para Lansia Menari untuk Kesehatan

Kalau makanan, ah jangan ditanya. Mereka menawarkan segala bentuk makanan dengan segala jenis rasa. Tapi sayangnya aku bukan pecinta wisata kuliner, karenanya aku tak terlalu bersemangat mencicipi jenis-jenis masakannya. Namun setiap kali aku makan di sana, selalu saja enak. Tak peduli jika itu hanya nasi goreng ataupun sate. Sepertinya ketika mereka yang memasak, masakan itu jadi kaya rasa! Tak seperti di Korea :(

"No, thanks": Saat berjalan di Wangfojing Street, aku bertemu makanan ini.

Bagi para pecinta bangunan bersejarah, wah Beijing adalah tempat yang cocok untuk berpergian. Pada hari pertama aku menghabiskan waktu hanya bersantai-santai di hotel dan sekelilingnya. Hari berikutnya aku menuju Temple of Heaven. Temple of Heaven ini adalah sebuah kuil yang dipercaya oleh orang Cina zaman dulu tempat dimana para Dewa berdiang. Di sana ada yang namanya Echo Wall, jadi jika kita berbisik di salah satu tembok maka teman kita diujung lainnya dapat mendengarkan suara kita meskipun jaraknya jauh. Katanya, itu karena saking padatnya batu tembok itu sampai tak ada celah yang membuat getaran suara kita terbuang. Dan sekali lagi, di taman-taman Temple of Heaven  aku kembali bertemu sepasukan para lansia yang asyik berdansa tralalala.. ckckckck.. bersemangat sekali mereka.

Echo wall: Bisa Berkomunikasi Melalui Tembok

Penjelasan Echo Wall

Selanjutnya aku ke Forbidden City. Ini adalah istana kerajaannya Cina zaman dulu, persis seperti di film-film. Wuiih, begitu aku masuk ke dalamnya, aku langsung merinding. Besarnya istana itu benar-benar tak tanggung-tanggung. dan di sekeliling kompleks itu terdapat parit yang sangat luas dan menara di setiap pojoknya untuk mencegah musuh datang . Sejenak aku menjadi ingat saat bermain Age of Empire atau Stronghold Crusader. Di dalamnya ada banyak sekali bangunan-bangunan. Dan yang paling banyak adalah bangunan untuk para selir-selir yang sang kaisar pun tak ingat nama-nama mereka.

Ada lagi yang namanya Summer of Palace. Jadi pada suatu masa di Cina dibangunlah istana untuk tempat tinggal permaisuri kaisar yang sangat indah. Di istana itu, terdapat danau yang luas sehingga pemandangan dari istana sangatlah menarik. Namun sayang, aku kesana saat musim dingin. Jadi danau itu membeku. Turis-turis lokal malah seenaknya menyeberangi danau itu dengan berjalan kaki. Dasar orang gila! Tak tau dingin apa!

Summer of Palace: Salah Satu Pemandangan Indahnya Summer of Palace

Akhirnya Tembok Cina. Ini benar-benar tembok raksasa. Saat aku kesana aku bertanya-tanya ini orang Cina dulunya bangunnya gimanaa kira-kira.. Apa tak ada kerjaan lain yang lebih masuk akal?! Benar-benar besar dan berada di puncak-puncak gunung. Sangat panjang. Benar-benar hasil pekerjaan orang kurang kerjaan! Konon katanya dari luar angkasa, maka satu-satunya bangunan yang masih bisa dilihat di bumi hanyalah Tembok Cina. Entahlah, aku pun belum pernah ke luar angkasa. Katanya lagi, tembok Cina itu dibangun untuk mencegah pasukan Manchu masuk ke Cina.

Tembok Cina

Ada banyak tempat lain yang kukunjungi seperti Tiananmen, Wangfojing street, Ming Tomb tempat-tempat kerajinan, dan lain sebagainya. Namun yang paling berkesan buatku adalah keempat tempat itu tadi.

Melancong Sendiri = Bertemu Teman baru

Kawan, kalau kau melancong beramai-ramai, maka kecenderungannya kau akan cuek dengan orang lain di sekitarmu. Kau akan banyak menghabiskan waktu dengan rombonganmu sendiri. Tapi jika sendiri, maka kau dengan otomatis mencari teman baru.

Saat di sana aku berkenalan dengan banyak orang, contohnya si Brande dan Scott dari Missouri (US). Mereka adalah asisten dosen yang lagi liburan di Beijing namun anehnya hubungan mereka tak lebih dari sekadar partner kerja. Si Brande orangnya sangat menyenangkan dan sering berkomentar sedangkan si Scott lebih banyak diam. Si Scott mulai banyak berkomentar saat melihat banyaknya rumah yang disediakan oleh Kaisar Cina untuk para selirnya di Forbidden City. Ia takjub, sama seperti aku juga takjub, membayangkan betapa menyenangkannya menjadi kaisar Cina. Ia sempat mengeluhkan dengan membandingkan mahalnya biaya bahkan untuk hanya punya 1 istri di Amerika sana. Ibarat dalam akuntansi, istri itu adalah Liability. Matilah kita.. Hehehe…

Di sana, aku juga bersahabat dengan si Ryan dari Canada. Dia berhenti bekerja dan memutuskan berpetualang ke Cina. Sehabis dari Cina ia berencana pergi ke Portugis untuk mengurus kewarganegaraannya karena ibunya yang asli Portugis. Kita sempat menghabiskan banyak waktu nongkrong, minum teh dan maen biliar bersama  di sana. Namun sayang, ia lebih dulu meninggalkan Beijing untuk melanjutkan petualangannya di kota lain di Cina.

Selain itu aku juga bertemu dengan teman-teman dari Spanyol. Agak susah berkomunikasi dengan mereka karena kebanyakan dari mereka bicara dalam bahasa Spanyol. Namun saat mereka memperkenalkan diri, tawaku hampir saja meledak. “My name is Jose, this is Antonio, Pedro, and Eva..”. Hahaha.. Nama mereka benar-benar tipikal tokoh-tokoh di telenovela. Ternyata nama-nama itu memang eksis di dunia nyata dan sekaligus sangat pasaran di sana. Ada yang menarik dari mereka, profesi mereka di negerinya adalah petani. Namun setiap tahunnya paling tidak sekali setahun, mereka liburan bersama ke luar negeri, seperti tahun lalu mereka pergi ke Jamaica. Ckckck, petani yang kaya raya!

Di Temple of Heaven: bersama si brande (tengah) dan Scott (Kanan)

Bak di Telenovela: Antonio, Pedro, Eva, dan Jose

Dan akhirnya, aku bertemu Inge, Dini, dan Hanna dari Indonesia. Ah, kalau ketiga makhluk ini sungguh sangat aneh. Mereka seperti spesies lain dari luar angkasa yang kebetulan dimukimkan di Indonesia. Tapi bertemu mereka itu sangat menyenangkan. Membuat hari-hariku di Beijing semakin sempurna. Untuk ketiga makhluk aneh ini, sepertinya mereka  harus didekasikan dalam artikel khusus.

Begitulah dulu kira-kira..

Kalau mau meresapi suasana natal yang begitu kental bahkan terasa menusuk sampai ke  tulang belakangmu, datanglah ke Seoul.

Aiiih… Di sini, suasana Natal begitu terasa. Meski itu di awal Desember 2009, namun semua orang seperti sibuk berbenah-benah.

Produk-produk mulai membuat paket-paket Natal mereka. Toko, restoran, pusat perbelanjaan, subway station, dengan gesitnya mulai memasangi lampu kelap-kelip dan pohon-pohon natal yang tentu saja tak lupa dilengkapi dengan aksesoris-aksesorisnya.

Kebanyakan produk menyajikan paket natal

Seorang anak asyik bermain dengan lampu. Menjelang natal, setiap toko mulai berhias diri.

Bahkan bis-bis kota yang biasanya cukup elegan pun kebablasan menghias diri dan  membuatnya menjadi norak. Tak ubahnya seperti bis ekonomi jurusan Kisaran-Pematang Siantar, yang karena saking bobroknya, si sopir berusaha mensiasati dengan menghias interior bisnya mati-matian sampai melebihi akal sehat para desainer interior sekali pun. Samalah seperti perawan tua yang kelewat jelek lalu berusaha mati-matian berdandan kelewat menor dan membuat orang yang melihatnya mati terkencing-kencing karena menyangka bertemu dengan kuntilanak. Hehehe..Tapi intinya, walaupun bis itu terlihat norak, tetapi itu membuat momen natal terasa lebih panjang di Seoul. Apalagi sopir yang mengendarai bis itu tiba-tiba menjelma menjadi Santa-Claus.

Bis pun Ikut Berdandan Menyambut Natal

Santa Claus berprofesi jadi sopir bis. Memang berat tuntutan ekonomi jaman sekarang, Santa Claus pun sampai harus cari kerja sampingan. Entah kemana rusa-rusa itu pergi dibuatnya. Kasian juga :)

Di sisi lain kota, Para Santa Claus mulai berhamburan dimana-mana. Mereka berdiri sambil membunyi-bunyikan lonceng untuk memanggil orang agar mau menyumbang untuk orang yang kurang mampu. Mereka itu benar-benar para sukarelawan, bukan pengusaha dadakan.

Ada juga yang memilih menyambut kedatangan natal dengan menyediakan panggung-panggung kecil di daerah keramaian, lalu para biduan mulai menyanyi di situ. Daaan… suara mereka merdu-merdu sekali, membuat bulu kudukmu berdiri. Apalagi mereka bernyanyi dengan lagu-lagu natal yang membuat memori ini seperti terbang melayang-layang mengingat nostalgia natal di masa lalu.

Santa Claus is Comiiing to Tooown.. Di sudut-sudut pusat perbelanjaan, ada saja panggung kecil untuk bernyanyi lagu-lagu natal. Foto ini diambil di Myeong Dong.

Dan yang paling menyenangkan adalah, tepat pada tanggal 25 Desember di pagi hari, salju pun mulai turun. Ah, ini membuat suasana natal kali ini begitu mantabh surantabh. Ketika salju turun, sahabat-sahabatku berteriak-teriak kegirangan. Sedangkan aku, aku hanya bisa meringkuk di tempat tidur di bawah selimut tebal.. hahahaha.. aku tak berani menghadapi salju yang dingin itu. Dasar orang kampung…

Ah, percuma juga kalau aku bercerita lebih jauh tentang bagaimana indahnya Natal di Korea.

Begini saja, saranku, kalau ada waktu luangmu dan uang lebih dari hasil korupsi, judi, atau pun menjual diri, lebih baik kau gunakan uang itu untuk datang ke Seoul di akhir bulan Desember. Karena setidaknya, sebelum kau masuk neraka kau sudah merasakan indahnya suasana Natal di Korea. Itu pun kalau kau belum keburu mati kedinginan di terpa musim dingin di Korea. Hahaha.. Bercanda.

Lidah orang kampung ini memang susah diajak kompromi.. jika ia dicekoki keju, pizza, spaghetti, ataupun kimchi secara berkesinambungan maka lidah  ini akan berontak. Lalu ia menjulur2 mencari  rendang, opor ayam, mi ayam pinggir jalan, indomie rebus yang pake cabe rawit potong, dan bahkan pecel yang biasa dijual di kereta api dalam perjalanan Kisaran-Medan (biasanya mereka berjejeran di stasiun Tebing Tinggi). Oh, apalagi gorengan pinggir jalan yang disajikan bersama cabe rawit dan teh botol sosro…

Daging sapi panggang: Ini lumayan bisa ditolerir

Daging sapi panggang: Ini lumayan bisa ditolerir

Dan aku tak menemukannya di Korea.  Nah, berhubung fasilitas memasak sangatlah lengkap di dormitory ditambah dengan semangat menemukan masakan yang dapat ditolerir lidah maka aku pun membuat tekad: “Mulai hari ini, saya, Rido, berjanji akan memasak untuk makanan sehari-hari!”

Untungnya aku menemukan Saos ABC (Hanya dijual di Itaewon)

Untungnya aku menemukan Saos ABC (Hanya dijual di Itaewon)

Pengalaman memasak sangatlah menyenangkan.. ada banyak hikmah yg dapat kita ambil. Jika engkau masih baru dalam dunia masak-memasak sama sepertiku, maka ikutilah prinsip dasar ini, niscaya kau tidak akan meninggal karena masakanmu.

Prinsip 1:

Tidak usah pusingkan apa yang akan dimasak, masukkan saja semuanya!

Berbekal NOL BESAR dalam pengalaman memasak, prinsip inilah yang kuanut saat awal memasak. Aku merebus air, lalu memasukkan segala jenis yang kutemukan: wortel, sayur yang aku tidak tau namanya apa, asalkan berwarna hijau(setau aku semua yang berwarna hijau itu sayur! kecuali Tentara), cabe, dll.  Semuanya kumasukkan ke dalam panci. Tak pilih kasih. Tanpa ampun. Setelah selesai memasak temanku melihat hasil masakanku dan berkata  ” Oooo.. you made  soup..Goooooood…”

Bathinku pun berkata: “Ooo.. ternyata dari tadi ini aku lagi buat sup.. Iya juga, emang mirip sup jadinya”.

Sekarang aku mengerti. Jadi tenang saja, nama makanan itu ada setelah makanan itu terlebih dahulu ada. Lagipula, apalah arti sebuah nama..

Prinsip 2:

Garam itu asin!

Prinsip dasar ini sangat penting bagi pemula. Waktu aku ingin menggoreng daging sapi, prinsip ini sangatlah jelas teraplikasi. Jadi begini, sebelum aku menggoreng daging, aku mencampurkan GARAM di daging mentah sambil menunggu pancinya panas. Lalu setelah itu aku memasukkan daging sapi mentah  itu bersama dengan cabe, bawang, sayur yg tak tau namanya (ingat Prinsip 1: Masukkan saja semuanya!) ke dalam panci. lalu secara latah tanganku MEMBUBUHKAN LAGI GARAM ke dalam panci dengan asumsi: Tadi kan  garam yang pertama untuk dagingnya aja, sayur2nya belum kena garamnya. tak berapa lama kemudian entah apa yang ada dipikiranku sampai akhirnya tanganku ini KEMBALI MEMBUBUHKAN GARAM ke dalam panci. Jadi TOTAL telah 3 kali aku membubuhkan garam. Setelah selesai aku pun mencicipinya. dan… aku baru tau, GARAM ITU ASIN jenderaall..begitu juga dengan masakan yg terlalu banyak dibubuhi garam!

Tapi tenaanng, tak perlu khawatir. Selalu ada solusi yang bernama: TONG SAMPAH. Jika engkau mengalami hal yang sama  maka buanglah masakan itu ke tong sampah secara diam2 tanpa diketahui temanmu yang lain dan beralih ke PLAN B: memasak mie instan. Itulah yg kulakukan.

Prinsip 3:

Manusia merencanakan tapi Tuhan juga yang menentukan!

Hendaknya kita tidaklah angkuh ketika memasak. Suatu kali aku pernah berniat untuk memasak telur dadar untuk pertama kalinya di Korea. Maka seperti Prinsip 1 (masukkan saja semuanya!), aku pun memasukkan cabe, sayur, dll ke dalam telor lalu dikocok bersama2. Setelah itu, aku pun menuangkannya ke dalam panci. Sampai disini tidak ada masalah. Namun ketika aku hendak membalikkan telor dadar itu, tiba2 saja telor itu hancur  sehingga tidak membentuk lingkaran lagi. Daripada bentuknya nanggung maka skalian saja aku hancurkan semuanya sehingga tidak berbentuk lagi dan jadilah: SCRAMBBLED EGG (Masakan yang kata orang sering tersaji di hotel untuk sarapan).

scrambbled egg

scrambbled egg

Jadi begitulah, aku boleh saja berencana membuat TELOR DADAR tapi Tuhan juga yang menentukan kalau telor itu harus jadi SCRAMBBLED EGG.  Siapa sangka?!  Jadi, hendaknya kita tidaklah angkuh ketika memasak, karena Dialah yang Maha Tahu.

Prinsip 4:

Jangan begitu saja percaya terhadap TEKNOLOGI canggih!

Seumur2 baru kali ini aku berhadapan dengan kompor listrik nan canggih. Jadi ketika hendak memasak mie, aku pun meletakkan panci ke atas kompor  listrik yang bentuknya sangatlah elegan itu. Sambil menunggu, aku pun bermain komputer. 1 jam kemudian.. air tak kunjung mendidih. Aku pun mencari penyebabnya dan ternyata aku belum menyalakan kompornya!

Kedua kali, aku hendak memasak nasi dengan rice cooker yg canggih dan dipenuhi tombol2 digital. kejadian yang sama terulang lagi.. nasi tak kunjung masak, ternyata aku belum memencet tombol untuk memasak.

Jadi, jangan percaya begitu saja terhadap benda yang terlihat canggih! Mau kompor listrik kek, kompor gas kek, rice cooker canggih kek,, semuanya harus dinyalakan dulu!

Aku kira, 4 prinsip saja sudahlah cukup untuk membuatmu tidak tewas karena masakanmu. Masalah enak tidak enaknya , janganlah terlalu dipermasalahkan.. Tidak mati saja sudah syukur. Lagipula, aku ini bukan Koki..

:)

Enaknya di Negeri Orang

Posted: Agustus 16, 2009 in Tulisan Kurang Bermutu

Ada satu hal yang menyenangkan dari berada di negeri orang dan tidak perlu bekerja di kantor:

Salah satunya,

Aku tak perlu buru2 bangun pagi, lalu memacu sepeda motor melebihi kecepatan suara :) demi tiba di kantor sebelum jam 7.30 pagi. Sesampainya di kantor dengan secepat kilat memasukkan jari ke kotak hitam menyeramkan demi mendengarkan suara: “verifikasi sukses..”  (Oooh… betapa menyenangkannya jauh dari mesin laknat itu :) )

Namun bukan itu saja keuntungannya. Nah, inilah  yang ingin kuutarakan saat ini kepadamu Kawan..

Pertama, enaknya berada di negeri orang adalah kita jadi menemukan hal2 baru dan paham akan kebiasaan dan budaya dari negara2 lain.  Apalagi dalam satu kelas, aku bersama dengan orang dari berbagai negara. contohnya:

a. Kebiasaan Pakai Sarung

Ternyata budaya memakai sarung bukanlah asli budaya Indonesia. Jadi jika  suatu saat Malaysia mempromosikan budaya pakai sarung, janganlah lantas kita orang Indonesia mengamuk karena itu memang bukan budaya  Indonesia saja. Pembuktiannya adalah teman aku yg orang Myanmar juga memakai sarung jika di flat. Dan tentu saja dibalik sarung itu ia hanya mengenakan celana dalam (dan kadang2 tidak sama sekali) sama seperti di Indonesia. Hahahaha.. Kau harus lihat bagaimana cara ia mengangkang dengan sarungnya, mengangkat satu kaki di kursi dengan sarungnya: Oh sungguh sangatlah elegan! Sangat eksotik!  Khas Asia! Sama persis seperti orang Indonesia. Bak kata pelajaran bahasa Indonesa SD kelas V: Bagai pinang dibelah dua! atau ibarat kata pelajaran Matematika SMP kelas 1: Sama dan Sebangun! bisa juga seperti istilah pelajaran biologi SMA kelas 2: Kembar Identik!

b. Kebiasaan Mengorok

Ternyata kebiasaan mengorok saat tidur itu sudah menjadi tren yang melanda semua orang di semua negara (dapat disejajarkan dengan tren model rambut Beckham-Sangat mendunia!). Ini terbukti dari teman sekamarku yang tidak pernah melewatkan tren ini setiap malam. Malangnya, dia selalu lebih dulu tidur daripada aku. Akibatnya, akulah yang yang harus menderita berkepanjangan karena mendengarkan orokannya yang selalu ditampilkan dengan tempo Conbravura dan birama 4/4 SETIAP MALAMnya.. Kawan, jika kau mengalami hal ini saranku: pasrah saja! Menyalakan MP3 dari HP dan meletakkannya di telinga juga tidak membantu banyak.  Satu2nya yang bisa dilakukan adalah menarik nafas dalam2, berusaha mendengarkan setiap nada orokan yang timbul, meresapinya dalam2, mencari makna filosofis dari setiap nada yang mengalun, lalu membayangkannya seperti alunan lagu Nina Bobo yang akan membawamu terbuai ke alam mimpi.. Inilah yang aku sebut MENGOROK DALAM NADA.. Hahahaha… Tapi izinkanlah aku SEKALI saja tidur lebih dulu daripada temen skamarku itu… Aku ingin dia merasakan orokanku dan agar ia mengerti betapa MENYAKITKANnya  perasaan itu.. he2.

Kedua, jika kau berada di negeri orang maka kau akan bertemu dengan berbagai macam teknologi canggih nan mutakhir yang digunakan dalam keseharian. salah satunya:

Zebra Cross

Teknologi untuk menyeberang jalan ini sangatlah maksimal digunakan  di Seoul. Ketika lampu untuk menyeberang nyala, barulah orang2 berduyun2 secara teratur menyeberang jalan di atas garis hitam putih. Dan tidak ada mobil/motor yang nyerobot.. Sepertinya anggota DPR kita perlu studi banding untuk menerapkannya di negeri kita. He2.

Ketiga, kita jadi bisa belajar bahasa asing. Sedikit flash back: Awalnya, aku tidak tertarik dengan Korea. Meskipun temanku baru pulang dari Korea dan menceritakan betapa enaknya hidup di Korea tetap saja aku tidak tertarik. Satu2nya alasan aku pergi ke Korea adalah karena aku tertarik dengan jurusan yang kuambil yang kebetulan ada di Korea. Nah, berangkat dari perasaan biasa saja itu, ternyata ketika telah tiba di sini perasaan itu berubah, dan satu hal yang sangat menyenangkan adalah dapat mempelajari bahasa mereka.

Keempat, (khusus Pria),  Aku bukanlah pengamat fashion, namun tren fashion yang ada di Seoul saat ini sangatlah memberikan  keuntungan bagi  para kaum pria.

(Khusus buat pacar: Tentu saja ini bukan merupakan keuntungan buatku, sayang… karena hanya kaulah yg ada di hatiku -gombal mode:on- He2.).

Tapi bagi pria2 lain yang tak sesetia aku (hehehehe2) tentu saja tren fashion saat ini dapat menggantikan peranan INSTO maupun VISINE dalam mencuci mata.  Bagaimana tidak, keseharian para wanita korea selalu saja menggunakan rok yang sangat mini.. Kebanyakan rok mini yang digunakan terbuat dari bahan kain yang dapat dengan mudahnya melambai2 bila tertiup angin..  Oooh tidak.. Mungkin Iman kita tahan akan godaan itu, tapi apakah “Imron” kita juga tahan?! Hehehe..

Itulah sedikit keuntungan2 berada di negeri orang, walopun ada juga gak enaknya. Salah satunya adalah: Di Korea, semuanya serba mahal… mau beli rumah mahal, mau beli mobil mahal, mau beli apartemen juga mahal.. :)

Udah, Segitu saja dulu..