Asal Usul Suku Batak

Namaku Rido Parulian Panjaitan. Asal muasal kata Panjaitan dalam namaku adalah karena Bapakku adalah suku Batak yang bermarga Panjaitan, jadi sebagai kaum patrilinial yang baik maka aku juga menyandang marga Panjaitan.

Trus, bagaimana sebenarnya asal muasal suku Batak? Bahkan ada orang yang bertanya-tanya adakah kaitannya antara asal muasal suku Batak dengan kemampuan mereka dalam mendominasi sektor transportasi darat Indonesia umumnya dan Jakarta khususnya? (jadi supir maksudnya…) hehehe…

Maka beginilah ceritanya:

Sebenarnya beberapa versi menghiasi sejarah tentang asal usul suku Batak. Singkatnya salah satu versi itu dapat dijelaskan begini (ini serius loh):

Suku Batak itu berasal dari Thailand, terus ke Semenanjung Malaysia lalu menyeberang ke Sumatera dan menghuni Sianjur Mula Mula, daerah pinggiran Danau Toba, lebih kurang delapan kilometer arah barat Pangururan, Kabupaten Toba Samosir.

Namun kalo itu tidak cukup, maka beginilah penjelasannya (ini juga serius loh):

Suku bangsa Batak itu adalah Proto Malayan, sama seperti suku bangsa Toraja. Mungkin ini adalah salah satu jawaban kok beberapa bahasa Toraja itu mirip dengan bahasa Batak. Sedangkan Neo Malayan itu turunannya adalah suku-suku bangsa Jawa, Bugis, Aceh, Minangkabau, Sunda, Madura dan sebagainya.

Jadi gitu, Suku bangsa Batak itu awalnya adalah salah satu suku dari Proto Malayan yang bermukim di pegunungan perbatasan Burma (Myanmar sekarang) dan Siam (Thailand sekarang). Selama ribuan tahun lamanya suku bangsa Batak itu bertempat tinggal dengan suku bangsa Proton Malayan lainnya, seperti Karen, Igorot, Toraja, Bontoc, Ranau, Meo, Tayal dan Wajo. Bayangkan betapa bosannya selama ribuan tahun hidup di gunung terus. Gak ada tv, gak ada mal, apalagi artis. Hanya ada pepohonan dan bebatuan. Kriik.. krikk.. krikk… sepi….

Zaman dulu suku-suku Proto Malayan itu orangnya gak gaul, gak mau berhubungan dengan dunia luar. Mereka setia tinggaI di pegunungan. Kemungkinan besar mereka gak pernah piknik ke pantai. Hehe.. Ini berbeda sekali dengan suku-suku Neo Malayan. Suku-suku Neo Malayan lebih suka tinggal di tepi laut atau tanah datar terbuka. Sama seperti Dono, Kasino, Indro yang difilm-flmnya pasti ada saja adegan pergi ke pantai.

Tapi semua itu berakhir. Si Suku-suku Proto Malayan terpaksa berhenti menutup diri di pegunungan itu. Karena sekitar tahun 1000 Sebelum Masehi (SM), suku bangsa Mongol datang menyerang dan terpaksalah mereka kabur ke selatan, sepanjang sungai-sungai Irawady, Salween, serta Mekong.

Udah itu,, mereka gak cuma didesak oleh si suku-suku mongol itu. Ternyata mereka juga didesak bangsa Syan yang bukan Proto Malayan, tapi Palae Mongoloid. Jadinya sebagian besar suku-suku Proto Malayan itu terdesak sampai ke tepi laut di teluk Martaban (kasian nenek moyang ku..). Hilanglah sifat-sifat kuper yang mereka gemari.

Nah.. sekarang mereka sudah tinggal di tepi laut. Tentunya sekarang mereka sudah bisa piknik ke pantai…(Yeeee…) Di tepi laut, kebudayaan Proto Malayan ini jadinya mulai kecampur dengan budaya Hindu (bahasa kerennya terakulturasi), Ini juga mempengaruhi bahasanya. Seperti contohnya dalam bahasa Batak, istilah-istilah seperti debata, singa, surgo, batara dan mangaraja.

Tapi emang dasar orang gunung, Suku-suku proto Malayan tentunya kurang senang bertempat tinggal di tepi laut. Terlalu banyak orang asing yang harus diperhitungkan.

” Bihkskh jhk, lkjajs jjasj dfre dafed laisf, jkansajk ahbjks fdljfl sfjdklj dnflk! Dsdnk- dsdnk cgruu neianh hula hrifsj thanydioi… Oringh.. Oringh.. ajsklaj ;kl; nklklj jklj skjd. Bajk hjaksd kla!” tutur salah seorang pria Proto Malayan sambil menggaruk-garuk pantatnya yang baru saja digigit kepiting laut.

Jika diterjemahkan menjadi: ”Busset daah, males banget gw di tepi laut, mana banyak orang banget di sini! Lama-lama cabut jg gw.. Oringh.. Oringh.. Mana lagi bini’ gw. Bikinin kopi sono!”

Mereka murung. Sedih. Mereka gak tahan lagi menanggung derita ini. Beberapa orang bahkan sampai mencoba bunuh diri dengan cara menusuk-nusukan capit kepiting ke ketek kiri mereka, sebab konon katanya mereka percaya bahwa letak jantung adalah di ketek kiri. Hehe…

Ini sangat menyakitkan… Gak ada lagi tempat terisolasi seperti mereka biasanya. Mereka gak tahan lagi. Lalu mereka memberanikan diri mengambil resiko, menyeberangi lautan mencari tempat tertutup.

Suku-suku dari Proto Malayan pun akhirnya terpisah-pisah. Suku-suku bangsa Proto Malayan yang kecil-kecil, banyak yang melancong dan akhirnya menetap di Filipina. Di situ mereka membentuk komunitas baru dan buka bisnis togel… (hehe.. gaklah). Disana mereka menolak agama Islam dan agama Katholik. Padahal 90 persen orang Filipina, yang suku-sukunya Neo Malayan, beragama Islam dan agama Katholik, seperti suku Tagalog.

Ada juga yang ke Taiwan. Suku bangsa Tayal pergi ke puncak-puncak gunung di Taiwan sejak 3.000 tahun lalu sampai sekarang (Jangan-jangan mereka itu leluhur F4 yang di serial meteor garden. Hehe) Mereka tidak ambil pusing bahwa tanah-tanah datar di tepi pantai Taiwan, silih berganti direbut Cina, Belanda, Cina, Jepang dan Cina lagi.

”Jkjg jklj ljklj hhs, hha akhcu jh, hkau jhj gkh! Hkhs auhi jo seeeept… seeept seept… seept.. (Lo mau perang kek, mau ngapain kek. Gw kagak peduli! Terserah lo dah booss… booos.. boos… boos…)” teriak mereka dari gunung sambil menyaksikan tanah datar di tepi pantai Taiwan direbut silih berganti.

Sejak 3.000 tahun di Taiwan mereka menolak segala macam agama. Tetapi sesudah Perang Dunia II mereka mulai mau menerima Kristen dari pendeta-pendeta Kanada, yang membawa ilmu kesehatan modern.

Suku bangsa Toraja mendarat di Sulawesi. Di situ mereka selama 3.000 tahun hingga sekarang kontra dengan suku-suku bangsa Bugis dan Makasar, yang adalah Neo Malayan. Mereka berantem mulu (udah mirip Israel-Palestina aja yak…). Agama Islam sekitar 400 tahun sudah diterima Bugis dan Makasar. Tetapi suku Toraja gak mau. Tapi pas abad XX suku bangsa Toraja mau menerima Protestan Calvinist dari pendeta-pendeta Belanda.

Sementara suku Karen tetap bertahan di pegunungan Burma. Sampai sekarang juga berantem terus dengan suku bangsa Burma yang membentuk Republik Burma. Suku bangsa Karen tetap menolak agama Budha, yang dianut orang-orang Burma dan Siam. suku bangsa Karen sejak abad ke-XIX menerima agama Kristen/British Baptists dari pendeta-pendeta Inggris.

Sedangkan suku bangsa Ranau mendarat di Sumatera Barat, lalu selama 2.500 tahun berkurung di sekitar Danau Ranau. Lepas dari segala pengaruh kerajaan Sriwijaya, kerajaan Darmasraya, dan apa saja yang timbul dan lenyap di Sumatera Selatan. Tapi sekitar tahun 1550 suku bangsa Ranau ditaklukkan kesultanan Banten, yang membutuhkan sekitar Danau Ranau untuk penanaman merica untuk ekspor. Nah, Tulisannya si suku bangsa Ranau inilah yang paling dekat ke tulisan Batak. Sedangkan bahasa Igorot (di Filipina) itulah bahasa terdekat dengan bahasa Batak.

Lalu bagaimana nasib si suku bangsa Batak, nenek moyangku? Tenang-tenang… ternyata mereka mendarat di pantai Barat pulau Sumatera. Di situ suku bangsa Batak terpecah menjadi beberapa gelombang (gelombang radio tidak termasuk). Gelombang pertama berlayar terus dan mendarat di pulau-pulau Simular, Nias, Batu, Mentawai, Siberut sampai ke Enggano (Sumatera Selatan).

Gelombang kedua mendarat di muara sungai Simpang, sekarang Singkil. Mereka bergerak sepanjang sungai Simpang Kiri dan menetap di Kutacane. Dari situ mereka menduduki seluruh pedalaman Aceh. Itulah yang menjadi orang-orang Gayo, dan Alas.

Sementara gelombang ketiga mendarat di muara Sungai Sorkam, antara Barus dan Siboga. Memasuki pedalaman daerah yang sekarang dikenal sebagai Doloksanggul dan belakangan menetap di kaki Gunung Pusuk Buhit (2005 meter), di tepi danau Toba sebelah barat, sekarang di seberang Pangururan. Dari situ berkembang dan akhirnya menduduki tanah Batak yang sekarang, antara Aceh dan Minangkabau, antara Samudera Hindia dan Selat Malaka. Jadi begitulah garis beras (eh, besar) dari migrasinya suku bangsa Batak.

Begitu ceritanya…

Tapi ada juga versi lainnya yang mengatakan Suku Batak berasal dari India melalui Barus atau dari Alas Gayo berkelana ke Selatan hingga bermukim di pinggir Danau Toba. Batu bertulis (prasasti) di Portibi bertahun 1208 yang dibaca Prof. Nilakantisasri (Guru Besar Purbakala dari Madras, India) menjelaskan, pada tahun 1024 kerajaan Cola dari India menyerang Sriwijaya yang menyebabkan bermukimnya 1.500 orang Tamil di Barus. Pada tahun 1275 Mojopahit menyerang Sriwijaya, hingga menguasai daerah Pane, Haru, Padang Lawas. Sekitar tahun 1.400 kerajaan Nakur berkuasa di sebelah timur Danau Toba, Tanah Karo dan sebagian Aceh.

Jadi intinya:

1. Asal usul orang Batak tidak ada hubungannya dengan kemampuan suku itu menguasai sektor transportasi darat Indonesia.

2. Ternyata aku ada keturunan Thailand-nya…

111 thoughts on “Asal Usul Suku Batak

  1. Penjahat Kuadal berkata:

    Maap, seinget gw waktu kita lagi makan nasgor waktu itoe imajinasi skenareo gw lebih keren dari tiu deh…… harusnya lw liat-liat dulu men
    “picturingnya” kurang down to earth secara maksud gw waktu itoe adalah…. adalah… adalah…. Sorry men keliatannya udah ke delete de memory yang itoe wahahahahaha

  2. permisi, ga tau knapa tiba2 bisa masuk kesini..
    kocak juga ceritanya..tapi yang lebih bikin gw ngakak, pembagian kategori blog-nya hahahahuea..tapi serius, penulisannya bikin gw ktawa2 (sampe ragu sbenernya ini fakta atau fiktif sih? haha) .

    tambah lagi ya artikel2 yang kayak gini, ok2

  3. Wenny berkata:

    Hai.. salam kenal !!
    Aku lagi dipusingkan dengan tugas tentang sejarah Batak oleh dosen antropologiku yang killer, kemudian secara tiba-tiba mendadak dan tanpa disengaja aku kemudian berhasil menemukan tulisanmu mengenai sejarah Batak yang cukup menarik dan mudah kumengerti. Terimakasih ya, secara tidak sadar dan tidak langsung, kamu sudah membantu memberikan jalan bagiku hehe
    NB : Maaf klo kata2 nya ngebingungin, karena aku emang begitu ^__^
    Keep up the good work, wanna try for another history??

  4. vi sianipar berkata:

    z senang bgt ternyata ada yg mo bk pikiran z ttg ke2 suku yg emang pd dsr nya z suka bgt n pengen tau sejarahnya. ternyata belajar sejarah bisa bikin kita enjoy n g ngeboringin. palagi bicara ttg budaya kita bang. z bangga deh jd org batak. gimana g bangga cara nampilin sejarahnya aja yahut. thz broooooooooooooooo…….
    lain kali ttg bahasanya jg biar lbh kumplit..plit..plit….

  5. *Hahahhahaha..

    Gak brenti ngakak aq!!
    Diawali dgn pertanyaan iseng rekan kerjaqu..
    “Marga di batak itu awalnya darimana sig,dien?”
    Yah..dari Raja Batak,donk..jawabqu sekenanya..
    Yah..Raja Batak siapa yg nglahirin??
    Akhirnya..aq googling..
    Nemu blog ini..

    Awalnya..baca dgn srius..
    di tengah2 udah gak tahan lagi..
    Ngakakkkk!!
    Hahahhahaha..

    Yahhh..minimal aq tawlah..kalo aq ini sbnrnya orang thailand..pantas marsugi2..kakkakaka

    HooORRRAaaZZzzz!!!

  6. Rido Panjaitan berkata:

    Hooraaasss…
    Untuk teman lae dien itu harusnya ia diberikan penghargaan, karena berkatnya lae jadi penasaran pgn tau ttg asal usul nenek moyang kita… Teman lae pantas mendapatkan nobel perdamaian… Hehe…

    Tp sayangnya Thailand bukan negara maju ya lae…
    kalo negara maju, kita bisa lebih narsis… Hahahaha…

  7. Rido Panjaitan berkata:

    “q mw tanya asal mulanya muncul suku batal dr mana?soalnya tu tgs kuliah q
    thanx y”
    setau aku sih, versinya ada macem2. Ada yang bilang asal mulanya muncul suku batak itu dari India, tp ada jg yg blg dari pegunungan perbatasan dgn Myamar dan Thailand. Lalu mereka berkelana sampai ke SUmatra.
    Gitu…
    Di postingan aku cukup dijelasin kok. cuma bahasanya agak2 aneh aja… Hehehe…

  8. ramot panjaitan berkata:

    Horas utk Rido dongan tubu sy.Kagum juga nih, sm orang muda yg mau pusing2 bikin rangkuman begini. Sangat baguslah.

    Kita tunggu nih, selanjutnya untuk yg lebih spesifik “asal marga Panjaitan”.

  9. Rido Panjaitan berkata:

    “Horas utk Rido dongan tubu sy.Kagum juga nih, sm orang muda yg mau pusing2 bikin rangkuman begini. Sangat baguslah.”

    Horas… Thx bwt apresiasinya…

    Kita tunggu nih, selanjutnya untuk yg lebih spesifik “asal marga Panjaitan”

    Wah… doakan saja bisa dilakukan… He2.

  10. Nova br. Sihombing berkata:

    Saya suka dengan artikel ini, sangat mendidik dan sekaligus menghibur. Dari dulu saya penasaran asal muasal suku batak kalau diurut urut dengan suku lain yang bermukim di Sumatera, suku batak memiliki perbedaan tersendiri dari segi habit, adat dan bahasanya.

    Tks buat Rido.

  11. wah.. pantas aja masih bnyak kesamaan adatdan bahasa antara orang batak dan toraja.. termasuk penggunaan Marga dan cara menguburkan, juga rumah adatnya.. kebetulan Bapak saya orang Toraja dan Ibu saya orang Batak jadi saya pake marga toraja yaitu Mangalik. salam kenal Fren

  12. Rido Panjaitan berkata:

    Chiko: namanya lucu… He2. Iya nih, dulu pernah maen ke makassar dan katanya bahasa toraja banyk yang sama dgn bahasa Batak. jangan2 nenek moyang kita dulunya kakak adek.. Brarti kita sepupu-an.. HE2.

  13. Rido Panjaitan berkata:

    sailendra: sama. gw juga kaget waktu tau semuanya.. ternyata toraja, ranau, batak msh satu rumpun. padahal tinggalnya berjauhan…

  14. Baragas berkata:

    Trus, gimana pula itu dengan pendapat yang bilang bahwa orang Buataak itu masih ada kaitan dan talibtemalinya dengan orang Jahudi yang di Israel sono…..

    • richard hutabalian berkata:

      iya ya ko q jg pernh dgr orang btk ada persman dgn jahudi ,kt sifat dan bntk tgkork otak orbtk
      ama jahudi sama mnrt ahli kedoktrn jmn dl .Richard hutabalian

  15. Rido Panjaitan berkata:

    @elisabeth: hmmm… gak bule2 jg siiih.. hehehhe..

    knp panjaitan? iya y…. knapa y? hmmm.. Mgkn krn kl marganya Panjaitanpanjarumanperpentulan jd kepanjangan… makanya disingkat aja jadi panjaitan…

    gmn? jawaban yg sgt ilmiah bkn?! hehehe

  16. wah bagus banget ceritanya dan sangat menarik untuk didiskusikan lagi. sekarang ini sy sedang focus pada suku suku di sekitar danau ranau (suku rejang, serawai)juga sdh banyak tulisan tentang ini. ada yg menarik, mereka punya marga, tapi bukan blooth (darah) seperti kita, melainkan teritorial (daerah)tp mempunyai aturan yg sama dimana satu marga tidak boleh kawin. tp ketentuan original (hkm asli) itu sudah hampir hilang karena masuknya pengaruh agama islam yg sdh men-replexi in complexu menjadi hukum adatnya sehari-hari, sehingga sudah saling mengawini dalam satu marga. sepertinya di orang batak juga sudah mulai seperti itu,yg kebanyakan terjadi pada sdr sdr kita yg beragama islam bahkan sudah ada yg tdk menyebutkan marganya lagi. apkh ini suatu fenomena baru di orang batak?

    • Rido Panjaitan berkata:

      @masko: wah kayaknya bnr2 aktif nih.. kita tunggu artikel atau ulasan tentang hasil penelaahannya niih.. hehehe..

  17. daniel berkata:

    horas lae.beberapa tahun yang lalu aku dikejutkan dengan penelitian seorang Prof dari Indonesia.dia suku batak juga.dia meneliti bahwa suku batak berasal dari salah satu suku Israel tepatnya suku naftali.berdasarkan dari batok kepala suku naftali.ada banyak persamaan dengan batok kepala suku batak.dan wajah nya marsui-sui.dan diteliti dari sifat hidup suku Israel sering mendirikan tugu peringantan tak ubahnya dengan sifat dari suku batak yang sering mendirikan tugu2 untuk peringatan pada nenek moyangya.dan 1 hal lagi jeniusnya orang israel hampir sama dengan batak he he he.tapi itu masih praduga lae.karena aku juga pernah dengar dari sebuah sumber bahwa batak itu dari suku negara Thailand seperti yang lae jelaskan.ok thanks lae

    • Rido Panjaitan berkata:

      @ lae daniel: wah kalo misalnya dibuat artikel lengkapnya seru juga itu lae.. hehehe.. biar makin bnyk artikel sejenis ini lae..

  18. Merina 72morang berkata:

    Aduh to.Emg yg ito sbutkan tu sesuai dgn faktanya.
    1.Opung aq sih ada mirip india2 nya tp ga hitam2 gtu
    2.Aq jd teringat ma pariban aq mirip orang keling.Ha ha ha
    (jangan kasih tw yah)
    3. kbnykn mirip org thailand mank betul asli melayu
    4.Tp apa kbrnya dgn orang btak mirip bule.Mmm paling jadi artis.Horas bah!

  19. McNutt Brillantes berkata:

    plaese e-mail me the address of ramot sihombing and his phone number if you can hi is my best freind idont heared him for along time. his real name is ramot gonawan sihombing my last seen in the philippines last 1990 thankyou very much. mcnutt brillantes

  20. Iman Parhusip berkata:

    Horas…
    Mantap lae/tulang, 95% ceritanya sesuai dg cerita lainnya. Kl punya bukunya, mgkn perlu tambah ceritanya dgn perjalanan mereka sampai ke Tanah Batak, Toraja, Filipina, ada jg katanya sbgn ke Lampung. Kmdn tarombo atau asal-usul marga batak.

    Kalo alasan kenapa Parhusip martulang tu Panjaitan huboto do dgn jelas. Leluconnya, tingki na naeng ditembak PKI ima Jend D.I Panjaitan, ada yg teriak “mangissugut ho tulang….”, itu adalah marga Parhusip. Hahahaha….

    • Rido Panjaitan berkata:

      Bah jadi teringat film G 30 s/PKI ak.. haha.. mengenai bukunya, kebetulan ak gak punya, ini ak cuma nyari2 di internet aja. hehe.. gimana kalo kita tunggu ulasannya dari lae? hehehe

  21. MARLUGA berkata:

    Wah, Lae Panjaitan, terimakasih banyak. Ceritanya masuk akal, dan ilmiah cuma tidak disebut sumber atau referensi nya, Shalom.

    • Rido Panjaitan berkata:

      itulah lae.. waktu nulis ttg suku kita ini, ak masih baru di dunia blog, jadi belum bgtu bisa menghargai sumber referensi. tapi begitu sadar untuk mengapresiasi si pemberi referensi dan mau menambahkannya di artikel ini, ak udah terlanjur lupa sumber referensinya dari mana. hehe.. mhn maaf..

  22. marya sinaga berkata:

    ito,,, buat dulu tentang sisi kebahasaannya secara lengkap..
    aku butuh banget untuk tugas kuliah sociolinguisticku..
    fans sama tulisanmyu ni,,
    ok jg!!
    thx

  23. Judika berkata:

    Salut juga ni ama orang muda yg kreatif, haaaaaa, tapi untuk lebih jelasnya harus ada survei dulu ke daerah-2 yg ditulis diatas biar lebih pas gitu looooo,

  24. anggia suhastra berkata:

    aq mau nanya bos,,,,?
    kenapa itu orang batak,, orang na keras semua….?
    cewej2 pun jg begitu….?
    padahal aq banyak yg naksir orang batak….?
    tp karna itu orang batak keras kali,,,,?
    jd aq gak jadi suka sama orang batak…..

    • Rido Panjaitan berkata:

      Ah itu di luarnya aja… Beginilah kira-kira orang Batak itu: Di luar seperti Rambo tapi di dalam seperti Romeo. Jadi di luarnya saja terlihat keras, tapi setelah kenal lebih jauh barulah terlihat ke-romeo-annya (kalau cewe berarti ke-juliet-annya) hehehe..
      Mungkin itu pengaruh budaya aja kyknya.. Tapi yang kudengar-dengar, katanya cewek batak itu tahan banting. Bisa diajak susah, walau kuping ini kadang harus panas mendengar celotehannya tiap hari. Tapi itu katanya. Aku belum pernah membuktikan.

  25. Nenek moyang orang lampung/ranau/komering dulu tgl di gunung pesagi dan mendirikan kedatuan “sakala baka”. rajanya bergelar sailendra, dr kt SILA(gunung) dan INDRA (raja).. yg merupakan cikal bakal kerajaan tulang bawang dan sriwijaya.. Orang batak, toraja dan lampung bersaudara kandung.. Org lampung-jawa-sunda bersaudara dr hsl perkwin kerajaan dulu..

    • Ade Novinda berkata:

      Dari mana asal usul suku bangsa kita, nggah usah jadi mslh yaa mas, yg pasti kita keturunan Adam & Hawa, mungkin org Batak yg tinggal di pegunungan kan sulit air, dan I am sorry, jarang mandi, kasihan, namanya tinggal diatas gunung kalau sdrnya lagi turun ke lembah nun jauh, kalau panggil hrs teriak dgn suara keras, apalagi yg panggil Opungnnya, sedangkan org komering pd umumnya tinggal di pinggiran sungai dataran rendah, kalau menyampaikan sesuatu kan cukup dgn suara lembut, kita saudara yaa.

  26. tomz nervy berkata:

    iya bukunya itu judulnya tuanku rao.tulisannya tempoe doeloe.aq punya bukunya,dr opung ku
    tp saya heran.kok org batax jelek jelex yah?hehehheheh….
    bisa dijelaskan secara ilmiah gan?

    • Rido Panjaitan berkata:

      hahaha.. terlalu sarkastik itu baah..hehehehe… tak semua orang batak berwajah kotak!! haha.. mungkin yang lae liat itu kebanyakan yang produk gagalnya lae.. samalah macam handphone.. ada juga produk gagalnya.

  27. jupati rajagukguk,ST berkata:

    harusnya yang seriuslah buat pendapat itu lae, ntar ada orang cari tugas “pendapat para ahli asal-usul orang batak ditulis itu giman, kan kacau???/

    • Rido Panjaitan berkata:

      betul memang… maafkan ak tentang itu. Cuma sbnrya maksud awal aku buat artikel ini adalah ingin membuat gimana caranya orang muda/remaja itu tak malas baca sejarah. apalagi sejarahnya sendiri.. biar mereka bisa merasa ternyata belajar sejarah itu bisa seperti berbagi cerita. tak membosankan dan bisa juga tak terlalu serius penyampaiannya. Karena aku ingat pelajaran PSPB ku dulu waktu SD begitu membosankan. Kata2nya terlalu serius dan isi-isinya tanggal, tokoh, dan tempat. harus dihapal!! Memang betul, kesan tulisan ini jadinya terlihat kurang ilmiah. tapi targetku cuma satu orang muda setidaknya tau tentang garis besar sejarahnya saja. Begitulah kira-kira bang.. tak bermaksud menggurui..

      • alex silalahi berkata:

        gk usah lae dengar omongan lae jupati itu,….

        klo dah punya gelar gtu ngomongnya..
        suruh aja dia bikin sendiri.. apapun ktanya salut hian au tu ho lae..

        ( 1 lagi tu salah satu penyakit orang batax kbnyakan protes macam lae jupati tuch )

  28. odanks berkata:

    saya org komering,kmrn membaca tesis tmn gw asl muasal suku komering ternata msh saudara dgn suku batak,lampung,n komering…pantesan bahasanya hampir mirip..^_^

  29. odanks berkata:

    suku komering tu nenek moyang nya dari danau ranau aslinya bro,,so bahasa ranau tu bahasa komering,jd suku ranau itu namaya suku komering..jd nenek moyang km itu dr ranau br berpisah2 ke laen t4,,ada yg ke lampung dll…cb km liat aja asal usul suku komering ada kuk broo…hehhe..mkse bro ats informasinya..^_^..skses sllu brooo….

  30. tapi lae dosen ku bilang klo orang batak itu dari kerajaan sriwijaya…. slnya kerjaan sriwijaya hilang nya orang g tau… trus orang lampung bilang klo lampung itu arti nya lapung… jadi setelah kerajaan sriwijaya hilang , pasukan atau prajurit yang tinggal dipusuk buit… itu g pernah denger kabar dari istana… trus mereka menetap selamany dipusut buit…. tapi!klo dibilang orang batak itu dari tailand kenpa adek aku mirip orang bule y… hehehe.. trus bapak ma aku mirip orang chines gitu… tpi thanks y buat penelitannya yang mungkin belum sempurna … horas lae

    • Rido Panjaitan berkata:

      horas.. kalo mengenai dari kerajaan sriwijaya itu kok ak agak ragu ya.., krn sprtinya budaya batak sudah cukup tua jika dibandingkan dengan kerajan sriwijaya.. tapi entahlah. cuma mengira2 aja.. kalo sodara yang mirip bule and chinese itu mngkin nnek moyang lae sempat jalan2 ke eropa dan liburan ke beijing sebelum bermigrasi ke sumatra. hehehe.. iya betul lae, memang tulisan ini belum sempurna, masih banyak versi2 laennya..

  31. sanggam tobing berkata:

    Aetikelnya bagus dan lucu bah. Bukan membanggakan diri, saya pernah mereka-reka bhw suku Batak itu terusir dr perbatasan Thailand – Birma oleh Mongol yg ganas. Alasan saya, Orba itu suka damai. Konon klo sdh diatas sipanganon dendam segala akan hilang, benarkah ? Dulu ke Sidikalang pernah pengacara marga Hasibuan mendamaikan sebuah pertikaian . Sdh tentu seekor kerbo jadi korban, minimal B2. Tetapi beberp lama kemudian, gejolak kembali membahana (maaf kalau bahasa indah saya keseleo). Saya jadi ragu akan diatas sipanganon itu, bgm dgn Anda ? Bangsa yg cinta damai memang akan menghindari pesisir yg rawan akan perseteruan itu, terutama Selat Malaka yg strategis. Itulah sebabnya lagu nidurkan baby suku Aceh : cepatlah besar anakku agar bisa berperang (terjemahan ini tentunya). Jadi bakat GAM itu sudah dari sononya, gitu lho. Bdgkan dgn lirik Butet, asa adong da Palang Merah yg cinta perdamaian itu. Ngomong punya omong lagu Butet itu ciptaan siapa ya dengar2 ? Apakah NN mirip kamera tersembunyi ha-ha-ha. Ingin imbangi kamu melucu. Itulah sebabnya Orba sempat (punya waktu = having time ?) Maaf, nilai B’I’ris saya waktu SMA agak jeblok, tolong perbaiki. Repeat, punya waktu untuk merancang adat Batak yg begitu rumit itu. Lebih rumit dari matematika, kata teman seorang Jawa. Pusing, keluhnya setelah kuceramahi belasan menit, shg terpaksa kucekoki aspirin, biar pusingnya hilang. Namanya usaha, soal gagal / berhasil itu nanti. Adat Batak itu menurut penerawangan saya disempurnakan secara turun temurun, maklum gak pernah diserang musuh. Kepiawaian berdebat di acara adat yg rumit itulah menjadi embrio dari ketrampilan pengacara Batak sekaliber Ruhut Sipoltak eh Sitompul, maju tak gentar membela yang …. Berjam-jam menyusun kata-kata bernuansa praduga tak bersalah tak sampai membutuhkan Antalgin, ha-ha-ha. Mestinya terimkasihlah komunitas pengacara Btk kpd Opung Sijolo-jolo tubu mewariskan ketrampilan adu urat leher bagi mereka. Di tahun 1970-an sebelum TV berwarna-warni, saya nonton acara ulangtahun Raja Thailand dgn suguhan kesenian Kedubes mereka di Jkt. Sebuah lagunya serupa tapi tak sama dgn lagu sombaku amang rajanami, itu lagu yg hanya pakai nada 1 – 5 itu. Seorang kawan berkata bhw di Birma ada juga parbagian jambar, walau tak begitu mendetail. Bisakah kedua info itu dijadikan alasan bhw Orba berasal dari perbatasan kedua negara yg kaya akan ‘obat’ itu ? Jangan-jangan kawan itu sok tahu, apa pernah dia ke Birma ? Ada juga yg bilang bhw kemenyaan juga terdapat di Birma walau tak banyak. Tetapi di Riau juga ada kemenyan, di Palembang juga ada tumbuh liar. Lagi pula marbagi jambar itu sifatnya universal mulanya. Budaya berburu bekerjasama mengepung buruan lalu dievaluasi, siapa tadi yg paling berperan akan dpt jbr lebih berbobot, sementara utk penggembira cukuplah sekedar ‘uang lihat’ ha-ha-ha dan Penguasa Mongol juga dikasi bagian semacam upeti, gitu lho…Lalu berkembanglah tradisi itu di Tab\nah Batak krn tak pernah diganggu musuh atau sangat jarang dpt gempuran. Kemampuan mengatur asupan gizi juga dimiliki Orba. Bangun-bangun itu rupanya mengandung vit. C dan zat besi yg cukup yinggi shg ampuh jadi katalisator pembentukan butir darah merah asalkan ada protein. Itulah sebabnya orang yg baru sersalin disajikan itu, utk pemulihan darahnya yg banyak tumpah. Kurang lebih begitulah penjelasan ilmiahnya. Sayang tak ada yang menganalogikan racikan itu, misalnya menyajikannya kpd seorang yg naru tabrakan dan banyak mengeluarkan darah. Itulah kalau hanya naluriah atau tidak ilmiah. Tidak dikembangkan, karena kasus tidak persis serupa. Turun temurun konsumen bangun bangun hanyalah ibu yg purna partus (campuran Sansekerta- Yunani ?), tapi saya waktu kecil kebagian juga ketika diajak mama tercinta menjenguk kerabat yang baru menambah pasukan. Orba memang tak malu-malu bawa pasukan ke pesta, hitung2 nambah gizi seimbang. Tapi kalau ditanya, ntar kalau anak2 ditinggal takut masuk jurang ketika main2, ha-ha-ha… cukup dulu capek.

    • Rido Panjaitan berkata:

      waaah.. pnjang kali komennya.. mantaaabh… hehe.. kalo mengenai orang batak cinta damai hmm.. ini relatif menurutku.. ak banyak juga jumpa orang batak yang berantem terus.. jadi tak bisa juga kita bilang orang batak cinta damai dan suku laen seperti suku dari aceh tidak cinta damai. sangat relatif.. tapi kalo mengenai orang batak suka berdebat kalo itu ak setuju bah.. tengoklah dipesta orang batak yg banyak perdebatannya.. hehe

      mengenai kesamaan dengan Burma (Myanmar) itu spertinya benar. Kebetulan ak sekamar dengan orang Myanmar. dan temanku dari Myanmar ini sering memasak makanan tradisionalnya dan begitu kucicipi ak terkejut karena rasanya persis seperti citarasa makanan batak bahkan suatu kali ak pernah makan makanannya rasanya kyak ada andalimannya.. tapi berhubung susah mencari istilah andaliman dalam bhs inggris jadi agak susah ak bertanya ttg ingridient masakannya apakah bnr mengndung andaliman ato gak. tapi mengenai pembagin jambar itu masuk akal juga… cuma ak gak tau di sana merka masih ada budaya itu apa gak.

      bgitulah dulu kira2.. tak sanggup ak menyaingi komen abang kita yang informatif ini. msti belajar dulu ak baru bisa. hehe…
      mauliate ma..

  32. sanggam tobing berkata:

    Tambahan : protein didapat dari daging(ayam). Mungkin mirip anggur penambah darah, yg benar jika dikonsumsi bersama D2 (dangket2). Orba tak konsisten, B1 disimbolkan daging panangga, B2 daging pinahan lobu, tapi lomok-lomok tak dirumuskimiakan menjadi unsur L2, ha-ha-ha

  33. sanggam tobing berkata:

    sanggam tobing (16:04:44) : Komentar anda menunggu disetujui

    Aetikelnya bagus dan lucu bah. Bukan membanggakan diri, saya pernah mereka-reka bhw suku Batak itu terusir dr perbatasan Thailand – Birma oleh Mongol yg ganas. Alasan saya, Orba itu suka damai. Konon klo sdh diatas sipanganon dendam segala akan hilang, benarkah ? Dulu ke Sidikalang pernah pengacara marga Hasibuan mendamaikan sebuah pertikaian . Sdh tentu seekor kerbo jadi korban, minimal B2. Tetapi beberp lama kemudian, gejolak kembali membahana (maaf kalau bahasa indah saya keseleo). Saya jadi ragu akan diatas sipanganon itu, bgm dgn Anda ? Bangsa yg cinta damai memang akan menghindari pesisir yg rawan akan perseteruan itu, terutama Selat Malaka yg strategis. Itulah sebabnya lagu nidurkan baby suku Aceh : cepatlah besar anakku agar bisa berperang (terjemahan ini tentunya). Jadi bakat GAM itu sudah dari sononya, gitu lho. Bdgkan dgn lirik Butet, asa adong da Palang Merah yg cinta perdamaian itu. Ngomong punya omong lagu Butet itu ciptaan siapa ya dengar2 ? Apakah NN mirip kamera tersembunyi ha-ha-ha. Ingin imbangi kamu melucu. Itulah sebabnya Orba sempat (punya waktu = having time ?) Maaf, nilai B’I’ris saya waktu SMA agak jeblok, tolong perbaiki. Repeat, punya waktu untuk merancang adat Batak yg begitu rumit itu. Lebih rumit dari matematika, kata teman seorang Jawa. Pusing, keluhnya setelah kuceramahi belasan menit, shg terpaksa kucekoki aspirin, biar pusingnya hilang. Namanya usaha, soal gagal / berhasil itu nanti. Adat Batak itu menurut penerawangan saya disempurnakan secara turun temurun, maklum gak pernah diserang musuh. Kepiawaian berdebat di acara adat yg rumit itulah menjadi embrio dari ketrampilan pengacara Batak sekaliber Ruhut Sipoltak eh Sitompul, maju tak gentar membela yang …. Berjam-jam menyusun kata-kata bernuansa praduga tak bersalah tak sampai membutuhkan Antalgin, ha-ha-ha. Mestinya terimkasihlah komunitas pengacara Btk kpd Opung Sijolo-jolo tubu mewariskan ketrampilan adu urat leher bagi mereka. Di tahun 1970-an sebelum TV berwarna-warni, saya nonton acara ulangtahun Raja Thailand dgn suguhan kesenian Kedubes mereka di Jkt. Sebuah lagunya serupa tapi tak sama dgn lagu sombaku amang rajanami, itu lagu yg hanya pakai nada 1 – 5 itu. Seorang kawan berkata bhw di Birma ada juga parbagian jambar, walau tak begitu mendetail. Bisakah kedua info itu dijadikan alasan bhw Orba berasal dari perbatasan kedua negara yg kaya akan ‘obat’ itu ? Jangan-jangan kawan itu sok tahu, apa pernah dia ke Birma ? Ada juga yg bilang bhw kemenyaan juga terdapat di Birma walau tak banyak. Tetapi di Riau juga ada kemenyan, di Palembang juga ada tumbuh liar. Lagi pula marbagi jambar itu sifatnya universal mulanya. Budaya berburu bekerjasama mengepung buruan lalu dievaluasi, siapa tadi yg paling berperan akan dpt jbr lebih berbobot, sementara utk penggembira cukuplah sekedar ‘uang lihat’ ha-ha-ha dan Penguasa Mongol juga dikasi bagian semacam upeti, gitu lho…Lalu berkembanglah tradisi itu di Tab\nah Batak krn tak pernah diganggu musuh atau sangat jarang dpt gempuran. Kemampuan mengatur asupan gizi juga dimiliki Orba. Bangun-bangun itu rupanya mengandung vit. C dan zat besi yg cukup yinggi shg ampuh jadi katalisator pembentukan butir darah merah asalkan ada protein. Itulah sebabnya orang yg baru sersalin disajikan itu, utk pemulihan darahnya yg banyak tumpah. Kurang lebih begitulah penjelasan ilmiahnya. Sayang tak ada yang menganalogikan racikan itu, misalnya menyajikannya kpd seorang yg naru tabrakan dan banyak mengeluarkan darah. Itulah kalau hanya naluriah atau tidak ilmiah. Tidak dikembangkan, karena kasus tidak persis serupa. Turun temurun konsumen bangun bangun hanyalah ibu yg purna partus (campuran Sansekerta- Yunani ?), tapi saya waktu kecil kebagian juga ketika diajak mama tercinta menjenguk kerabat yang baru menambah pasukan. Orba memang tak malu-malu bawa pasukan ke pesta, hitung2 nambah gizi seimbang. Tapi kalau ditanya, ntar kalau anak2 ditinggal takut masuk jurang ketika main2, ha-ha-ha… cukup dulu capek.
    Balas

  34. kristiani berkata:

    Horas….
    ito macam mana pula skenario… orang aku baca serius ternyata banyak juga ide kocak yang buat tertawa…. pusing juga nech kepala….
    tapi good idea… byr aku nggak bosen juga bacanya…

  35. SEIKO berkata:

    HORAS PRA!!! Jadi marga diperbatasan myammar dan thailan masih ada tk skarang pra?soalnya skrg aku blum dapat bukti akurat dari asal muasal kita!!mingkin masalh jambar dan kebiasaan myammar atau suku toraja persis dgn kita!tapi masalah marga ini pra dan aturan mssma marganya!!ainnya!hanya cina yang sbagian punya marga yang tk saling kawin dngan marganya!tapi aku domianan kita brasal dari israel yang terbuang masa jaman nabi2 dan berrklana ke asia!!karna watak dan pribadi hampir sama trutama jogal!!ha….ha!!mauliate pra

  36. IDA AMORINA NAINGGOLAN berkata:

    sBNRNYA asal usul SUKU BATAK sngat panjang perjalanannya, dan kalau d galih lgi lbh dalam gk akn slsai2 critanya
    sma speti ADAT ISTI ADAT yg qta miliki pda saat BERPESTA
    lhat z mlai dri yg terkecil smw d adatin
    partuturan itu yg gk prnh hilang dri ORANG BATAK
    mkannya saya Bangga jdi org Batak
    hidup suku BATAK

  37. pantas simanjuntak Mardaup sibadogil no 15 berkata:

    horas…..!!!! semuanya<terutama kepada Lae Rido Panjaitan,tulisan lae itu menambah wawasan saya tentang asal usul orang batak tapi terlepas dari cerita itu semua banyak yang saya banggakan dari suku batak salah satunya adalah SILSILAH (tarombonya) boleh saya katakan disini hingga pada saat ini belum ada yg menandingi di Dunia ini komplit nya silsilah batak, dan masih banyak hal lagi yg saya banggakan dari suku batak, horasssssss…….!!!

  38. Eliando Sidauruk PARNA berkata:

    ceritanya menarik.. logis..walaupun kebenaran yg sejati tidak akan pernah terungkap. salut buat lae panjaitan..

  39. Sam Pagul berkata:

    Satu kali aku melihat tayangan tv dari thailand dan music back ground nya 99% sama dengan sarunenya sitilhang. kemungkinan besar sarunenya dan music arransmennya berasal dari thailand dan kemungkinan besar orang batak berasal dari sama dan kalau ditelusuri mungkin dari india selatan. apa lae panjaitan ini seorang historian atau antropologist atau sociologist atau kombinasi ketiga professi itu? mudah2 demikian. good job lae.

  40. Robert.Nainggolan berkata:

    sesorang pernah mengatakan pada q lae….. klu orang batak itu adalah salah satu dari 12 suku israel yg hingga kini belum bisa dikumpulkan….. 11 suku telah bisa di kumpulkan, itu berarti msh kurang 1 suku lg…. tp seorang ahli sejarah berasumsi bahwa suku batak sangat identik dengan israel, dari segi pemikiran… dan perilaku, juga kecerdasan dan cara berpikir…..ntah benar apa tidak saya pun kurang tau…… krn ini jg menurut q sama dengan pollung di lapo tuak… hahahaha…

  41. jhon berkata:

    horas …. mejuah-juah… yahobu
    …….
    jelas jo baen lae bah… ai dia do natoho…
    hita on … blasteran thailand manang na india manang na pargurun pasir…kkkwkwkwwkwkk
    alai… nangpe songoni… mauliate godang tu boa-boa na ni bagi hamu tu hami…

  42. Panangian Pakpahan berkata:

    Horas tulang..!!! Kupanggil tulang kerna mamakku br Panjaitan. Seneng baca tulisan tulang ttg asal usul org Batak krn nambah wawasan.

    Slama ini aku menduga kl org batak itu ada kaitannya dgn suku Yahudi krn org Batak memiliki tarombo/silsilah mulai dr nenek moyang Si Raja Batak hingga kita skrg yg sama dgn tradisi org Yahudi spt yg tertulis dlm Alkitab. Selain itu agama asli org Batak adlh Agama Parmalim menyembah “MULAJADI NA BOLON” (kira2 artinya Pencipta Yg Agung) dan mrk menguduskan “HARI SABAT/Sabtu” dan menjadikannya sebagai hari beribadah, dimana satu2nya agama yg menguduskan Hari Sabat/Sabtu dan menjadikannya sebagai hari beribadah hanyalah Agama Yahudi, pd hal org Batak sdh menganut agama Parmalim tsb sebelum msknya Islam n Kristen di Tano Batak… Bgmn kira2 pendapat Tulang ?

    Berikut kulampirkan artikel Sdr. Julhan Hutabarat yg jg menarik perhatianku tulang :

    • Tanggapan Julhan Hutabarat:
    Pada tanggal 9 November 2007 jam 11:59 pm
    BATAK, KELOMPOK ISRAEL YANG HILANG ???
    Bangsa Israel kuno terdiri dari 12 suku. Setelah raja Salomo wafat, negara Israel pecah menjadi dua bagian. Bagian Selatan terdiri dari dua suku yaitu Yehuda dan Benjamin yang kemudian dikenal dengan nama Yahudi. Kerajaan ini disebut Juda, ibukotanya Yerusalem, dan daerahnya dinamai Yudea.
    Bagian Utara terdiri dari 10 suku, disebut sebagai orang Samaria. Dalam perjalanan sejarah, kedua belas suku tsb kehilangan identitas kesukuan mereka.
    Kerajaan Samaria tidak lama bertahan sebagai sebuah negara dan hilang dari sejarah. Konon ketika penaklukan bangsa Assyria, banyak orang Samaria yang ditawan dan dibawa ke sebelah selatan laut Hitam sebagai budak. Sebahagian lari meninggalkan negaranya untuk menghindari perbudakan.
    Sementara itu Kerajaan Juda tetap exist hingga kedatangan bangsa Romawi.
    Setelah pemusnahan Yerusalem pada tahun 0070 oleh bala tentara Romawi yang dipimpin oleh jenderal Titus, orang-orang Juda pun banyak yang meninggalkan negerinya dan menetap di negara lain, terserak diseluruh dunia.
    Jauh sebelum itu, ketika masa pembuangan ke Babilon berakhir dan orang2 Israel diijinkan kembali ke negerinya, ada kelompok-kelompok kecil yang memilih tidak pulang tetapi meneruskan petualangan kearah Timur.
    Demikian juga dengan mereka yang diperbudak di selatan laut Hitam, setelah masa pebudakan selesai, tidak diketahui kemana mereka pergi melanjutkan hidup.
    Dengan demikian banyak diantara bangsa Israel kuno kemudian kehilangan identitas mereka sebagai orang Yahudi.
    Ada sekelompok penduduk di daerah Tiongkok barat, diterima sebagai puak Cina, tetapi secara umum profil wajah mereka agak berbeda dengan penduduk Cina pada umumnya. Perawakan mereka lebih besar, hidung agak mancung, namun berkulit kuning dan bermata sipit. Mereka menyembah Allah yang bernama Yahwe. Sangat mungkin mereka adalah keturunan Yahudi yang sudah kawin mawin dengan penduduk lokal sehingga kulit dan mata menjadi seperti penduduk asli.
    Saya percaya banyak diantara para pembaca yang mengetahui bahwa di negeri Israel ada sekelompok kecil orang Israel yang berkulit hitam. Mereka adalah suku Falasha, yang sebelum berimigrasi ke Israel hidup di Etiopia selama ratusan generasi. Fisik mereka persis seperti Negro dengan segala spesifikasinya yaitu kulit hitam legam, bibir tebal, rambut keriting habis, dll.
    Mereka mengklaim diri mereka sebagai keturunan Yahudi, dan dengan bukti-bukti yang dimiliki, mereka mampu memenuhi seluruh kriteria yang dituntut oleh Pemerintah Israel yang merupakan syarat mutlak supaya diakui sebagai Yahudi perantauan. Setelah memperoleh pengakuan sebagai keturunan Yahudi, sebahagian dari mereka kembali ke Tanah Perjanjian sekitar 15 tahun lalu dengan transportasi yang disediakan oleh Pemerintah Israel. Itulah sebabnya mengapa ada Israel hitam.
    Mereka menjadi seperti orang Negro karena intermarriage dengan perempuan-perempuan lokal sejak kakek moyang mereka pergi ke Ethiopia.
    Kita tahu bahwa bahwa Ethiopia adalah salah satu negara yang penduduknya mayoritas Kristen yang paling tua didunia. Ingat sida-sida yang dibaptis oleh Filipus dalam Kisah 8:26-40. Bahkan sebelum era Kekristenan pun sudah ada penganut Yudaisme disana.
    Walaupun banyak yang kembali, sebahagian lagi tetap memilih menetap di negeri itu, dan merekalah yang menjaga dan memelihara Tabut Perjanjian yang konon ada disana.
    Apakah ada diantara para pembaca yang pernah mendengar selentingan bahwa etnik Batak, adalah juga keturunan bangsa Israel kuno? Mungkin saja tidak, karena orang-orang Batak sendiri banyak yang tidak mengetahuinya, kecuali segelintir yang memberikan perhatian terhadap hal ini.
    Seperti yang diungkapkan oleh seorang anthropolog dan juga pendeta dari Belanda, profesor Van Berben, dan diperkuat oleh prof Ihromi, guru besar di UI (Universitas Indonesia), bahwa tradisi etnik Tapanuli (Toba) yang menjadi cikal bakal dari 4 sub etnik Batak (Karo, Simalungun, Pakpak, Mandailing) sangat mirip dengan tradisi bangsa Israel kuno.
    Pendapat itu didasarkan atas alasan yang kuat setelah membandingkan tradisi orang Tapanuli dengan catatan-catatan tradisi Israel dalam Alkitab yang terdapat pada sebahagian besar kitab Perjanjian Lama, dan juga dengan catatan-catatan sejarah budaya lainnya diluar Alkitab.
    Beberapa peneliti dari etnis Tapanuli juga yakin bahwa Batak adalah keturunan Israel yang sudah lama terpisah dari induk bangsanya, tapi karena intermarriage dengan penduduk lokal ditempat mana mereka bermukim membuat orang Batak secara fisik menjadi seperti orang Melayu.
    Seorang Batak Tapanuli, yang sudah lebih dari 20 tahun tinggal di Israel dan menjadi warga negara, berusaha mengumpulkan data-data untuk pembuktian. Setelah merasa sudah cukup, dia mengajukannya ke pemerintah Israel yang waktu itu masih dipimpin oleh PM Yitzak Rabin (?).
    Tetapi tenyata data tsb belum bisa memenuhi seluruh kriteria. Pemerintah Israel kemudian meminta agar kekurangannya dicari hingga dapat mencapai 100 persen supaya pengakuan atas etnis Batak sebagai orang Israel diperantauan dapat diberi.
    Konon kekurangan itu terutama terletak pada silsilah yang banyak missing links-nya, dan menelusuri silsilah itu agar sempurna sama sulitnya dengan menyelam ke perut bumi.
    Jika saudara pergi Taman Mini Indonesia di Jakarta dan singgah di rumah tradisi Toba (Tapanuli), disana akan ditemukan silsilah tsb.
    Peneliti berharap suatu waktu pada masa depan, Pemerintah Israel bisa saja mengubah kriterianya dengan menjadi lebih lunak dan etnik Batak diterima sebagai bahagian yang terpisah dari mereka.
    Setelah mendengar selentingan itu, saya benar-benar menaruh minat untuk menyelidiki sejauh mana budaya suku Batak dapat memberi bukti similaritasnya dengan tradisi Israel kuno. Alkitab adalah buku yang prominent dan sangat layak serta absah sebagai kitab pedoman untuk mencari data budaya Israel kuno yang menyatu dengan unsur sejarah dan spiritual.
    Beberapa diantara kesamaan tradisi Batak (Toba) dengan tradisi Israel kuno adalah sbb.
    1). Pemeliharaan silsilah.
    Semua orang Tapanuli, terutama laki-laki, dituntut harus mengetahui garis silsilahnya. Demikian pentingnya silsilah, sehingga siapa yang tidak mengetahui garis keturunan kakek moyangnya hingga pada dirinya dianggap na lilu – tidak tahu asal-usul – yang merupakan cacat kepribadian yang besar.
    Bangsa Israel kuno juga memandang silsilah sebagai sesuatu yang sangat penting. Alkitab, sejak Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru sangat banyak memuat silsilah, terutama silsilah dari mereka yang menjadi figur penting, termasuk silsilah Yesus Kristus yang ditelusuri dari pihak ibuNya (Maria) dan pihak bapak angkatNya (Yusuf).
    2). Perkawinan yang ber-pariban.
    Ada perkawinan antar sepupu yang diijinkan oleh masyarakat Batak, tapi tidak sembarang hubungan sepupu. Hubungan sepupu yang diijinkan untuk suami-istri hanya satu bentuk, disebut marpariban. Cukup report menerangkan hal ini dalam bahasa Indonesia karena bahasa ini tidak cukup kaya mengakomodasi sebutan hubungan perkerabatan dalam bahasa Batak.
    Yang menjadi pariban bagi laki-laki ialah boru ni tulang atau anak perempuan dari saudara laki-laki ibu. Sedangkan yang menjadi pariban bagi seorang gadis ialah anak ni namboru atau anak laki-laki dari saudara perempuan bapa.
    Hanya hubungan sepupu yang seperti itu yang boleh menjadi suami-isteri. Karena suku Batak penganut patriarch yang murni, ini adalah perkawinan ulang dari kedua belah pihak yang sebelumnya sudah terjalin dengan perkawinan.
    Mari kita bandingkan dengan Alkitab. Pada kitab Kejadian, Yakub menikah dengan paribannya, anak perempuan Laban yaitu Lea dan Rahel. Laban adalah tulang dari Yakub. (Saudara laki-laki dari Ribka, ibu dari Yakub). Didunia ini sepanjang yang diketahui hanya orang Israel kuno dan orang Batak yang sekarang memegang tradisi hubungan perkawinan seperti itu.
    3). Pola alam semesta.
    Orang Batak membagi tiga besar pola alam semesta, yaitu banua ginjang (alam sorgawi), banua tonga (alam dimensi kita), dan banua toru (alam maut).
    Bangsa Israel kuno juga membagi alam dengan pola yang sama.
    4). Kredibilitas.
    Sebelum terkontaminasi dengan racun-racun pikiran jaman modern, setiap orang Batak, terutama orang tua, cukup menitipkan sebuah tempat sirih (salapa atau gajut), ataupun sehelai ulos, sebatang tongkat, atau apa yang ada pada dirinya sebagai surat jaminan hutang pada pihak yang mempiutangkan, ataupun jaminan janji pada orang yang diberi janji.
    Walaupun nilai ekonomis barang jaminan bisa saja sangat rendah tetapi barang tsb adalah manifestasi dari martabat penitip, dan harus menebusnya suatu hari dengan merelealisasikan pembayaran hutang ataupun janjinya.
    Budaya Israel kuno juga demikian. Lihat saja Yehuda yang menitipkan tongkat kepada Tamar sebagai jaminan janji (Kej. 38).
    5). Hierarki dalam pertalian semarga.
    Dalam budaya Batak, jika seorang perempuan menjadi janda, maka laki-laki yang paling pantas untuk menikahinya ialah dari garis keturunan terdekat dari mendiang suaminya. Ini dimaksudkan agar keturunan perempuan tsb dari suami yang pertama tetap linear dengan garis keturunan dari suami yang kedua.
    Misalnya, seorang janda dari Simanjuntak sepatutnya menikah lagi adik laki-laki mendiang (bandingkan dengan Rut 1:11).
    Jika tidak ada adik laki-laki kandung, sebaiknya menikah dengan saudara sepupu pertama dari mendiang yang dalam garis silsilah tergolong adik. Jika tidak ada sepupu pertama, dicari lagi sepupu kedua. Demikian seterusnya urut-urutannya.
    Hal semacam ini diringkaskan dalam ungkapan orang Batak :
    “Mardakka do salohot, marnata do na sumolhot. Marbona do sakkalan, marnampuna do ugasan”.
    Dalam tradisi Israel kuno, kita dapat membaca kisah janda Rut dan Boas. Boas masih satu marga dengan mendiang suami Rut, Kilyon. Boas ingin menikahi Rut, tapi ditinjau dari kedekatannya menurut garis silsilah, Boas bukan pihak yang paling berhak. Oleh sebab itu dia mengumpulkan semua kerabat yang paling dekat dari mendiang suami Rut, dan mengutarakan maksudnya. Dia akan mengurungkan niatnya jika ada salah satu diantara mereka yang mau menggunakan hak adat-nya, mulai dari pihak yang paling dekat hubungan keluarganya hingga yang paling jauh sebelum tiba pada urutan Boas sendiri.
    Ya, mardakka do salohot, marnata do na sumolhot. (Baca kitab Rut).
    6). Vulgarisme.
    Setiap orang dapat marah. Tetapi caci maki dalam kemarahan berbeda-beda pada tiap-tiap etnik. Orang Amerika terkenal dengan serapah: son of a bitch, bastard, idiot, dll yang tidak patut disebut disini. Suku-suku di Indonesia ini umumnya mengeluarkan makian dengan serapah : anjing, babi, sapi, kurang ajar, dll.
    Pada suku Batak makian seperti itu juga ada, tetapi ada satu yang spesifik. Dalam sumpah serapahnya seorang Batak tak jarang memungut sehelai daun, atau ranting kecil, atau apa saja yang dapat diremuk dengan mudah. Maka sambil merobek daun atau mematahkan ranting yang dipungut/dicabik dari pohon dia mengeluarkan sumpah serapahnya:,,Sai diripashon Debata ma au songon on molo so hudege, hubasbas, huripashon ho annon !!!”. Terjemahannya kira-kira begini:,,Beginilah kiranya Tuhan menghukum aku kalau kamu tidak kuinjak, kulibas, kuhabisi !!!”.
    Robeknya daun atau patahnya ranting dimaksudkan sebagai simbol kehancuran seterunya.
    Orang-orang Israel kuno juga sangat terbiasa dengan sumpah serapah yang melibatkan Tuhan didalamnya. Vulgarisme seperti ini terdapat banyak dalam kitab Perjanjian Lama, diantaranya serapah Daud pada Nabal. (1 Sam. 25, perhatikan ayat 22 yang persis sama dengan sumpah serapah orang Batak).
    7). Nuh dan bukit Ararat.
    Ada beberapa etnik didunia ini yang mempunyai kisah banjir besar yang mirip dengan air bah dijaman Nuh. Tiap etnik berbeda alur ceritanya tetapi polanya serupa. Etnik Tapanuli juga punya kisah tentang air bah, tentu saja formatnya berbeda dengan kisah Alkitab. Apabila orang-orang yang sudah uzur ditanya tentang asal-usul suku Batak, mereka akan menceritakan mitos turun temurun yang mengisahkan kakek moyang orang Batak diyakini mapultak sian bulu di puncak bukit Pusuk Buhit.
    Pusuk Buhit adalah sebuah gunung tunggal yang tertinggi di Tapanuli Utara, dipinggiran danau Toba. Pusuk Buhit sendiri artinya adalah puncak gunung.
    Pusuk Buhit tidak ditumbuhi pohon, jelasnya tidak ada bambu disana. Yang ada hanya tumbuhan perdu, ilalang, dan rumput gunung. Bambu – dari mana kakek moyang keluar – menurut nalar mendarat di puncak gunung itu dan mereka keluar dari dalamnya setelah bambunya meledak hancur.
    Mengapa ada bambu pada puncak Pusuk Buhit yang tandus dan terjal? Tentu saja karena genangan air yang mengapungkannya, yang tak lain adalah banjir besar.
    Dapat dipahami mengapa jalan cerita menjadi seperti itu, karena setelah ribuan tahun terpisah dari induk bangsanya, narasi jadi berbeda. Bahtera Nuh berubah menjadi sebentuk perahu bambu berbentuk pipa yang kedua ujungnya ditutup, dan Bukit Ararat berubah menjadi Pusuk Buhit.
    8). Eksumasi (Pemindahan tulang belulang).
    Jika Pemerintah mengubah fungsi lahan pekuburan, wajar jika tulang-belulang para almarhum/ah dipindahkan oleh pihak keluarga yang terkait. Alasan ini sangat praktis.
    Bagi orang Tapanuli, penggalian tulang belulang (eksumasi) dari kerabat yang masih satu dalam garis silsilah dan dikuburkan didaerah lain adalah praktek yang sangat umum hingga sekarang. Sering alasannya hanya untuk kepuasan batin belaka walaupun biayanya sangat mahal karena termasuk dalam kategori perhelatan besar.
    Pada bangsa Israel kuno hal semacam adalah kebiasaan umum. Sejarah sekuler menuturkan bahwa tulang belulang Yusuf dibawa dari Mesir ketika bangsa ini keluar dari sana. Juga dalam kitab lain dalam Perjanjian Lama, sekelompok masyarakat berniat memindahkan tulang belulang dari satu pekuburan (walaupun kemudian dihalangi oleh seorang nabi).
    9). Peratap.
    Adalah wajar bagi jika satu keluarga menangis disekeliling anggota keluarga / kerabat yang meninggal dan terbujur kaku. Mereka menangisi si mati, dan seseorang meratapinya. Meratap berbeda dengan menangis. Meratap dalam bahasa Tapanuli disebut mangandung. Mangandung ialah menangis sambil melantunkan bait-bait syair kematian dan syair kesedihan hati.
    Karena sepenuhnya terikat dengan komponen syair-sayir maka mangandung adalah satu bentuk seni yang menuntut keahlian. Untuk memperoleh kepiawaian harus belajar. Bahasa yang digunakan sangat klasik, bukan bahasa sehari-hari.
    Setiap orang-tua yang pintar mangandung akan mendapat pujian dan sering diharapkan kehadirannya pada setiap ada kematian.
    Di desa-desa, terutama di daerah leluhur – Tapanuli – tidak mengherankan kalau seseorang orang yang tidak ada hubungan keluarga dengan orang yang meninggal, bahkan tidak dikenal oleh masyarakat setempat, namun turut mangandung disisi mayat. Masyarakat mendukung hal seperti itu. Kata-kata yang dilantukan dalam irama tangisan sangat menyentuh kalbu.
    Tak jarang pihak keluarga dari si mati memberi pasinapuran (ang pao) kalau si peratap tersebut pintar, sekedar menunjukkan rasa terima kasih.
    Peratap-peratap dari luar ini sebenarnya tidak menangisi kepergian si mati yang tidak dikenalnya itu. Alasannya untuk turut meratap adalah semata-mata mengeluarkan kesedihan akibat kematian keluarga dekatnya sendiri pada waktu yang lalu, dan juga yang lebih spesifik yaitu mengekspresikan seni mangandung itu.
    Ini sangat jelas dari ungkapan pertama sebelum melanjutkan andung-andungnya :,,Da disungguli ho ma sidangolonhi tu sibokka nahinan” Sibokka nahinan adalah anggota keluarga sipangandung yang sudah meninggal sebelumnya. Selanjutnya dia akan lebih banyak berkisah tentang mendiang familinya itu.
    Bagamana dengan bangsa Israel?
    Dari sejarah diketahui bahwa ketika Yusuf (perdana menteri Mesir) meninggal, sanak keluarganya membayar para peratap untuk mangandung. Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru berkali-kali mencatat kata-kata ratapan, meratap, peratap.
    Kitab Ratapan yang ditulis oleh raja Salomo, dalam praktek Israel kuno adalah syair-syair yang dilantunkan sambil mangandung, kendati bukan pada acara kematian.
    10). Hierarki pada tubuh.
    Dalam budaya Batak, kepala adalah anggota tubuh yang paling tinggi martabatnya. Menyentuh kepala seseorang dengan tidak disertai permintaan maaf yang sungguh-sungguh, bisa berakibat parah. Sebaliknya anggota tubuh yang paling rendah derajatnya ialah telapak kaki. Adalah penghinaan besar jika seseorang berkata kepada seseorang lain:,,Ditoru ni palak ni pathon do ho = Kau ada dibawah telapak kakiku ini”, sambil mengangkat kaki memperlihatkan telapak kakinya pada seteru. Penghinaan seperti ini hanya dilontarkan oleh seseorang yang amarahnya sudah memuncak dan sudah siap berkelahi.
    Pada zaman dulu, dalam setiap pertemuan, telapak kaki selalu diusahakan tidak nampak ketika duduk bersila.
    Pada bangsa2 Semitik tertentu di Timur Tengah, tradisi semacam ini masih tetap dijaga hingga sekarang karena memperlihatkan telapak kaki pada orang lain adalah pelanggaran etika yang berat, karena telapak kaki tetap dianggap anggota tubuh yang paling hina derajatnya.
    11). Tangan kanan dan sisi kanan.
    Dalam budaya Tapanuli, sisi kanan dan tangan kanan berbeda tingkat kehormatannya dengan sisi kiri dan tangan kiri.
    Jangan sekali-kali berinteraksi dengan orang lain melalui tangan kiri jika tidak karena terpaksa. Itupun harus disertai ucapan maaf. Dalam Alkitab banyak tercatat aktivitas sisi ‘kanan’ yang melambangkan penghormatan atau kehormatan.
    Yusuf sang perdana menteri Mesir memprotes ayahnya Yakub yang menyilangkan tangannya ketika memberkati Manasye dan Efraim (baca Kejadian 48).
    Rasul Paulus dalam salah satu suratnya menyiratkan hierarki anggota tubuh ini.
    Juga baca Pengkhotbah 10:2, Mzm 16:8, Mat 25:33, 26:64 Mrk 14:62, Kis 7:55-56, 1Pet 3:22, dll.
    12). Anak sulung.
    Dalam hierarki keluarga, posisi tertinggi diantara seluruh keturunan bapak/ibu ialah anak sulung. Ia selalu dikedepankan dalam memecahkan berbagai masalah, juga sebagai panutan bagi semua adik-adiknya. Jika ayah (sudah) meninggal, maka anak sulung yang sudah dewasa akan mengganti posisi sang ayah dalam hal tanggung jawab terhadap seluruh anggota keluarga seperti yang diungkapkan dalam umpasa : Pitu batu martindi-tindi, alai sada do sitaon na dokdok. Sitaon na dokdok itu adalah si anak sulung.
    Tanggung jawab itulah yang membuat dia besar, memberi karisma dan wibawa.
    Karisma dan wibawa, itulah profil yang melekat pada anak sulung.
    Alkitab ditulis dengan bahasa manusia, bangsa Israel kuno. Deskripsi tentang anak sulung pada bangsa ini sama seperti yang ada pada suku Batak yang sekarang, sehingga the term of the firstborn (istilah anak sulung) banyak terdapat dalam kitab tersebut. (baca Kel 4:22, 34:20, 13:12 dan 15, Im 27:26, Bil 3:13, 8:17, Mzm 89:28, Yer 31:9, Hos 9:20, Rom 8:23, Luk 2:27, 11:16, 1Kor 15:20 dan 23, Kol 1:15 dan 18, Ibr 1:6, Yak 1:18, dll)
    13). Gender.
    Hingga sekarang posisi perempuan dalam hubungan dengan pencatatan silsilah selamanya tidak disertakan karena perempuan dianggap milik orang lain, menjadi paniaran ni marga yang berbeda. Hal yang sama terjadi pada bangsa Israel kuno ; bangsa ini tidak memasukkan anak perempuan dalam silsilah keluarga. Ada banyak silsilah dalam Alkitab, tetapi nama perempuan tidak terdapat didalamnya kecuali jika muncul sebagai yang sangat penting seperti Rut dan Maria (ibu Yesus).
    Kalaupun nama Dina disebut juga dalam Alkitab, itu bukan karena posisinya yang penting tetapi hanya sebagai pelengkap nama-nama keturunan Yakub yang kemudian menurunkan seluruh bangsa Israel.
    14). Pola monoteisme.
    Dalam hampir seluruh kepercayaan animisme didunia ini, tuhan selalu jamak, bahkan bisa berjumlah puluhan, dan masing-masing sama besar kekuasaannya walaupun berbeda wilayah (bidang). Misalnya dewa air, dewa tanah, dewa api, dewa angin, dewa gunung, dewi kesuburan, dewi kecantikan, dewi keberuntungan, dll. Masing-masing juga punya isteri atau suami.
    Adalah satu hal yang patut dengan perbedaan animisme Tapanuli yang disebut Parmalim, walaupun mereka memuja roh-roh para leluhur dan hantu-hantu, tetapi faham ketuhanan mereka hanya mengenal monoteisme, yang mereka sebut Mulajadi Na Bolon, artinya Pencipta Yang Maha Besar. Seluruh penyembahan keagamaan mereka hanya berpusat kepada Mulajadi Na Bolon yang tunggal dan tidak beristeri.
    Ini hal yang luar biasa uniknya. Tidak ada analisis yang dapat menerangkan itu jika tidak menghubungkannya dengan faham monoteisme Yudaisme bangsa Israel kuno yang terbawa melekat hingga sekarang, tidak lekang oleh kikisan kurun waktu ribuan tahun.
    Pada suku Toraja yang juga satu garis keturunan dengan orang Batak, mereka yang masih animis juga menganut animisme yang monoteistik, dengan sesembahan tunggal Puang Matua. (Predikat “puang” diberikan pada sosok yang patut dihormati. “Matua” artinya yang terhormat. Puang Matua dapat diartikan sebagai Dia yang mulia).
    Pada suku Batak kuno, kata “puang” sama maknanya dengan “puang” pada suku Toraja sekarang. Tetapi dalam perjalanan waktu panjang, sekarang ini kata tsb telah berubah makna yaitu lebih menyiratkan keakraban).
    Tambahan.
    Adalah satu tradisi pada bangsa Israel kuno tidak menguburkan mayat anggota keluarga yang meninggal, melainkan meletakkannya dalam sebuat tombe yang berupa liang batu yang dibuat melalui pahatan. Lihatlah kesamaannya dengan mayat Yesus Kristus yang diletakkan dalam tombe milik Yusuf dari Arimatea. Budaya ini tidak terdapat pada suku Batak. Mungkin karena di Tapanuli tidak terdapat lime stone atau sejenisnya yaitu batu lunak yang mudah dilubangi seperti batu cadas.
    Namun suku Toraja masih melekat teguh pada tradisi seperti ini hingga sekarang. Hal ini berguna untuk diutarakan untuk menambah bukti-bukti bahwa suku Batak yang masih berkerabat dengan suku Toraja, sangat bisa jadi adalah keturunan Israel yang sudah lama terpisah dan hilang.
    Saya cukupkan saja dulu hingga disitu, karena terlalu letih untuk membeberkan semua, termasuk indikasi-indikasi lemah yang banyak jumlahnya.
    Jika data yang diatas itu saja dibawa kepada ahli statestik, yang tentu akan mempertimbangkan semua aspek-aspek lain yang terkait kedalamnya, simililaritasnya dengan tradisi bangsa Israel kuno dengan bukti autentik tertulis dalam Alkitab, informasi sejarah sekuler, tradisi Semitik yang ada hingga sekarang, serta kesamaan tradisi itu pada suku Batak setelah kurun waktu kurang lebih 3000 tahun, angka perbandingan untuk mengatakan bahwa suku Batak bukan keturunan Israel mungkin 1 : 1,000,000 bahkan bisa jadi lebih.
    Barangkali ada diantara saudara-saudara yang dapat menambahkan.
    Sekian dulu.
    W. Simanjuntak.

    • Y.Sebayang berkata:

      Saya masih menunggu komentar dari teman2 yg lain dan penulis mengenai artikel diatas ini.
      Yang benar sebetulnya dari israel kuni, pinggiran myanmar/thailand atau dari bangsa lain lagi?

  43. hshshs hshshsh rrr jkdfhuyhsdf klkdklsalf ghyfdgydgd kdkkdkd kdkdkdk = artinya
    Hahaha lucu kali lah asal usul batak itu rupanya. tapi tak perduli pula aku, yang penting aku batak asli. titik ( serius aku )

  44. Victor sitompul berkata:

    dalam merumuskan asal mula suku BATAK, kita perlu seorang anthropolog yang ahli dan tenaga pendukung lainnya.. memang butuh biaya yang sangat besar untuk melakukan penelitian ini, karena selain meneliti di dalam negeri kita juga akan meneliti keluar negeri seperti ke Belanda dan Jerman, karena disana banyak terdapat peninggalan sejarah suku Batak yang dimuseumkan. saya yakin suatu saat nanti kita dapat menguak kebenaran tentang asal usul suku Batak..
    Horasss

  45. Kelihatannya penulis adalah seorang Antropologist, gaya tulisannya bagus, menarik, bisa dibaca oleh semua golongan pembaca dan membuat kita terus melek dalam membaca artikelnya. kalau boleh saya tanya , apa ada bukunya ynag sudah diterbitkan, saya pingin beli mengenai sjarah batak yang lenkap dengan bibliografinya, apalagi kalau ada edisi bahasa ingriss. hal ini sangat perlu karena banyak orang batak yang sudah tinggal di luar negeri dan menjadi warga negara tempat dimana mereka tinggal. Saya sebagai seorang oppung yang tinggal di USA pingin memiliki buku sjarah batak dalam bahasa ingriss supaya saya dapat ajarkan the next geration mengenai asal usul orang batak. kalau belum ada bahasa ingriss, saya mau secara sukarela menterjemahkan secara bebas kedalam bahasa ingriss dan kemudian di terbitkan di USA.
    Salam hormat untuk Tulang Panjaitan.

  46. Artikelnya menarik bang menambah wawasan.
    Dari judul sampai komentar2nya aku baca smua.
    Asal-muasal bangsa batak memang sungguh rumit jika di kaji secara ilmiah dan menditel.
    Ada yang bilang dari myanmar-thailand, israel(dari banyak versi yang saya baca),
    sampe ada yang ksi komen msi keturunan bule lah, krn facenya agak putih DIKIT(mentang2 beda dri yg pada umumnya).
    Tp menurut saya walau pun saya blm meneliti secara ilmiah,batak itu keturunan si Adam & si Hawa (yakin kali aku pasti setuju semua tanpa terkecuali).hahahahaha

  47. Rosie berkata:

    Rosie Aruan
    Buat Abang/Ito Sam Pagul, saya sangat setuju. Akan sangat bagus kalau tulisan Panangian Pakpahan and Rido Panjaitan digabungkan menjadi satu in English edition (of course after they agree with it). It would be better if they are able to provide you with references as well.
    Banyak orang Batak di tempat tinggal saya yang lebih memahami bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia karena sudah terlalu lama di negeri ini. Sisi lain, I will be able to give the books to the people that I work with.

  48. `°•.¸¸.•°` `°•.¸¸.•°` `°•.¸¸.•°“°“°•.¸¸.•° ┏̲H̶̲̅┓̲┏̲A̶̲̅┓̲┏̲H̶̲̅┓̲┏̲A̶̲̅┓̲┏̲H̶̲̅┓̲┏̲A̶̲̅┓̲ =^.^=  `°•.¸¸.•°` `°•.¸¸.•°` `°•.¸¸.•°“°“°•.¸¸.•° (•͡.̮ •͡ )>ξ=} ngakak abis.. Masa hati ada di ketek siiihh??? Jadi aku ada keturunan Thailland-nya nih? :p ohh yaaa di sini ada yang marganya Siregar? Klo iy, manat mardongan tubu yaaa.. :)g

  49. Lestari Htb berkata:

    hehehe..
    lucu ni artikel’a..
    tp aq jd bingung emang gitu ya kak sejarah batak,,??
    trus gmn cerita’a etnis suku batak bs lg tarbagi bagi seperti TOBA,KARO,SIMALUNGUN,MANDAILING N’ PAKPAK kak..??

    ..??

    hehehe.. :)

  50. Terimakasih banyak untuk Lae Rido Parulian Panjaitan dan Lae Panangian Pakpahan yang telah membahas asal usul Suku Batak berdasarkan catatan Alkitab yang bisa menambah pengetahuan secara khusus tentang asal usul kita sebagai Orang Batak. Kiranya tulisan ini bermanfaat dan menjadi berkat bagi kita semua dan terutama menjadi kemuliaan bagi Nama TUHAN. Amen.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s