Titipan dari Abangku: Mengapa Harus Menulis? Mengapa pula Tidak Menuliskan!!

Ini adalah tulisan yang dititipkan abangku untuk dimasukkan ke blog:

Kau bergerak pelan anggun layaknya perahu indah menyusuri kanal, terapung sombong membelah air bening bersih yang memantul mantulkan setiap cahaya yang menyentuh. Kau indah teduh melumat seluruh amarah, biarlah lukisan naturalis menjadi nyata serta berdiam di dalamnya, hanya ditemani warna warni yang lembut menyatu sepanjang hamparan kanvas metamorfosa. Menjadi kupu-kupu dan terkulai hanya dalam keanggunanmu yang congkak rapuh lembut, damai terbang di lukisan mu.

Sejumput perasaan cemburu bergelayut sejenak ketika mata-mata, mulut-mulut mulai memuji melirik dan menggoda goresan-goresan dasyat, ada amarah terbuncah oleh sarkasme atas mu. Mata hati dan otak penuh bahkan meluap akan mu, ah…serpihan-serpihan senyum akan dipungut terkumpulkan dari waktu ke waktu seperti cincin indaman gollum, kau begitu berharga meruntuhkan seluruh keliaran. Berlian agung sangat bernilai terpajang di etalase, tapi kamu, tak akan pernah terpajang, absolutly not for sale. Biarkan lapar melanda membujuk dan tak kan ada yang mengantikan serpihan senyum pekat mu, begitu kental meradang di hati. Makan hanya untuk raga, kau adalah humus bagi akar jiwa…

Gamang di atas gedung yang tinggi, berdiri tegak merentangkan tangan berteriak tanpa suara, limbung oleh rasa yang mencandu. Merasa biru diderasnya hujan..love oh amor..begitu susah nya menikmati mu. Hanya dengan hayal menerawang, mata terpejam rapat wujud mu kan terlihat jelas. Semu merah bergelombang indah, biru menggenangi hati, begitu hijau teduhmu…absurd.

Hati hanya bisa menunduk terbiskhu bagai abdi menghadap Sri Sultan, terseok-seok berlalu ketika rona wajah mu memerah marah, mengutuki diri sendiri untuk memperoleh lagi remahremah ramah mu. Ya..lemah tertekuk lutut bahagia dalam demokrasi perasaan yang terbaurkan tanpa sengaja. Kau biarkan angin meniupi daun Oak, mendesirkan kesenangan seluruh sendi…penat hilang penat datang. Kau adalah sepiring nasi sepanjang waktu yang ditemani roti dan mie instant. Kau adalah pertanyaan sekaligus jawaban…

Mata lelah menembus segala arah mencari serpihan senyum pekat mu…. sejauh mata menerawang bulan yang sembunyi di balik awan…Ah, kau begitu jauh dan begitu dekat…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s